Ken Setiawan: Pelaku Ledakan di SMAN 72 Diduga Siswa Korban Bully yang Terpapar Paham Terorisme
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta saat salat Jumat, tepatnya usai khotbah. Insiden tersebut menyebabkan 54 orang mengalami luka bakar dan luka akibat serpihan bom.
Sekolah yang menjadi lokasi kejadian berada di kompleks Komando Daerah Maritim (Kodamar) TNI AL, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, mengaku tidak terkejut atas insiden itu. Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan bahwa infiltrasi paham radikal di kalangan pelajar masih menjadi ancaman nyata.
“Beberapa waktu lalu, Densus 88 Antiteror Polri menangkap puluhan pelajar di berbagai daerah, bahkan ada yang masih duduk di bangku SMP,” kata Ken, Jumat (8/11/2025).
Dari hasil penyitaan ponsel mereka, lanjut Ken, ditemukan banyak tayangan kekerasan dan peperangan di Timur Tengah, seperti Suriah, Libya, hingga Palestina.
“Pola perekrutan kelompok teroris kini sudah berubah. Mereka tidak lagi merekrut lewat tatap muka, melainkan lewat media sosial. Banyak pelajar yang tertarik setelah melihat propaganda di internet,” ujarnya.
Ken menjelaskan, para pelajar yang terpapar memiliki latar belakang beragam — mulai dari korban perundungan (bullying), salah pergaulan, kesalahan dalam belajar agama, hingga berasal dari keluarga broken home.
“Mereka yang kecewa atau merasa tersisih sering mencari jati diri lewat media sosial. Di sanalah kelompok radikal masuk memengaruhi pikiran mereka,” terang Ken.
Terkait ledakan di masjid SMAN 72, Ken menduga motifnya berkaitan dengan kasus perundungan. Informasi yang diterimanya menyebutkan, pelaku dikenal sebagai siswa pendiam dan tertutup, serta kerap menjadi korban ejekan teman-temannya.
“Bom rakitan atau molotov yang ditemukan di lokasi diduga dibawa oleh siswa yang sering dirundung. Ada tiga jenis bom, dan dua di antaranya meledak,” ungkapnya.
Ken Setiawan
paham terorisme
ledakan bom
SMAN 72
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
