Banyak Menu MBG Selama Ramadan Dikeluhkan, Mikdar Minta Satgas Warning SPPG
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan menuai sorotan dari masyarakat. Sejumlah temuan di lapangan menunjukkan menu yang dibagikan kepada siswa dinilai tidak sesuai standar gizi yang diharapkan.
Beberapa menu yang dikeluhkan di antaranya hanya berupa kurma, kacang, bahkan abon sapi. Menu tersebut dianggap tidak mencukupi kebutuhan gizi siswa, terutama dalam mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar.
Menanggapi polemik tersebut, Anggota Komisi II DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai ada dapur penyedia MBG yang belum menjalankan ketentuan sesuai standar yang telah ditetapkan.
“Persoalan menu makanan bergizi yang disampaikan masing-masing dapur MBG di beberapa tempat tidak sesuai dengan yang diharapkan penerima. Di dapur itu kan ada ahli gizi dan kepala dapur, seharusnya sebelum dibagikan dicek dulu apakah sudah memenuhi standar sesuai aturan yang ditetapkan,” ujarnya.
Menurut Mikdar, tidak semua dapur bermasalah. Ia mengakui ada dapur yang menyajikan menu dengan baik, namun ada pula yang dinilai jauh dari standar. Karena itu, ia meminta adanya pengawasan yang lebih ketat.
Ia menegaskan perlunya peran Satuan Tugas (Satgas) di tingkat provinsi maupun kabupaten untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur-dapur penyedia MBG. Pengawasan tersebut diharapkan mampu memastikan kualitas menu sebelum disalurkan kepada siswa.
“Kita minta Satgas turun langsung melihat dapur-dapur, mengecek apakah menu yang akan dibagikan sudah wajar dan sesuai ketentuan. Kalau memang sudah memenuhi standar yang ditetapkan BPN, baru bisa disalurkan,” katanya.
Mikdar juga mengaku kecewa melihat berbagai unggahan menu MBG di media sosial yang memicu keluhan masyarakat. Ia menilai komplain tersebut wajar jika menu yang diberikan tidak sesuai harapan.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa anggaran satu porsi MBG memang berbeda sesuai jenjang pendidikan. Untuk balita dan siswa TK hingga kelas 3 SD, anggaran ditetapkan sekitar Rp8.000 per porsi. Sementara untuk siswa kelas 3 SD hingga SMA, anggaran sebesar Rp10.000 per porsi.
Anggaran tersebut mencakup pembelian susu, lauk pauk, roti, buah, dan kebutuhan gizi lainnya. Namun, ia mengakui saat ini dapur penyedia menghadapi kendala kenaikan harga bahan pokok, seperti daging ayam, daging sapi, dan susu.
Mbg
menu mbg
dprd Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
