Nanang Bicara Banjir, Birokrasi sampai Tsunami
Agus Pamintaher
Lampung Selatan
RILISID, Lampung Selatan — Tiga persoalan besar di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), menjadi tantangan bagi Bupati Lamsel Nanang Ermanto saat menjabat pelaksana tugas (Plt) bupati.
”Namun berkat perjalanan hidup dan pengalaman di organisisasi, semua bisa saya lalui dengan baik,” yakin Nanang saat diundang pada acara Ngopi Bareng Bang Aca di Warkop Aspirasi Rakyat Lampung, Wayhalim, Bandarlampung, Sabtu (20/6/2020).
Persoalan yang ia maksud di antaranya banjir bandang pada April 2018 yang merusak sejumlah infrastruktur di pusat Kota Kalianda; pembenahan birokrasi pascaoperasi tangkap tangan (OTT) mantan bupati Lamsel Zainudin Hasan; dan tsunami pada 22 Desember 2018 akibat longsornya Gunung Anak Krakatau (GAK) yang menelan 123 korban jiwa.
Begitu juga dengan putusnya Jembatan Patriot sebagai urat nadi perekonomian di Kota Kalianda, akhirnya tuntas dibangun tanpa menggunakan dana APBD.
Dengan kepiawaiannya, Nanang mampu menggandeng para pelaku usaha di Lamsel untuk turut berkontribusi membangun kabupaten yang menjadi gerbang Pulau Sumatera itu.
”Keterlibatan elemen masyarakat, dunia usaha, pemerintah pusat dan provinsi, TNI, Polri serta elemen lainnya, secara perlahan dapat menuntaskan persoalan tsunami. Dan saat ini, sedang dalam proses pembangunan hunian tetap (huntap) di pesisir Kalianda,” imbuhnya.
Di kalangan birokrasi, Nanang juga membangun pola kebersamaan dan kegotong-royongan. Berkali-kali dia mengingatkan jajarannya untuk menyingkirkan ego sektoral. Baginya, pola itu akan mampu menuntaskan semua persoalan yang terjadi.
”Yang dirasakan setelah ada kebersamaan adalah hasil yang luar biasa. Ketegangan tidak akan menginspirasi kita untuk menciptakan inovasi. Termasuk yang kita lakukan dalam membangun Lamsel ke arah yang lebih baik,” pungkasnya. (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
