LRT Palembang Mogok, CBA Duga Ada Kejanggalan Proyek
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — Direktur Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky khadafi, menyayangkan mogoknya Ligth Rail Transit saat uji coba di Palembang, Sumatera Selatan.
Dirinya menduga, ada kejanggalan dalam proyek LRT Palembang yang telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tersebut.
"Proyek LRT bukannya lancar digunakan publik, malahan mengalami mogok. Hal ini ada tanda-tanda kejanggalan yang tak bisa disembunyikan oleh pihak Kementerian Perhubungan," kata Uchok melalui siaran persnya kepada rilis.id, Selasa (14/8/2018).
Tak hanya itu, ujar Uchok, kejanggalan kejanggalan proyek tersebut juga bisa dilihat dari nilai investasi pembangunan LRT. Yakni dimulai dari Stasiun Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II hingga Jakabaring Sport City yang menelan biaya sebesar Rp12.5 triliun.
"Berarti setiap 1 kilometer pembangunan LRT sepanjang 23.4 kilometer itu bisa menghabiskan anggaran antara USD 37-40 juta atau sekitar Rp520 miliar," ujarnya.
Dia menilai, biaya proyek sebesar itu terlalu mahal dan cenderung ada dugaan mark-up. Pasalnya, proyek LRT Lumrahnya adalah USD 8 juta per kilometer.
"Maka dari persoalan ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus melakukan penyelidikan," tegasnya.
Uchok meminta, KPK segera memanggil Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dan pihak Waskita Karya. Pemanggilan itu menurutnya, dalam rangka untuk pemeriksaan pembangunan jalan rel beserta kereta api yang mogok tersebut.
"Apakah kereta api tersebut barang baru atau rongsokkan. Diminta kepada KPK jangan fokus operasi tangkap tangan kepala daerah saja, tapi juga harus fokus kepada kementerian yang menangani pembangunan Infrastruktur Jokowi," tandasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
