Bawang Lambar Kalah Saing, DTPH Belum Ada Solusi
Ari Gunawan
LAMPUNG BARAT
RILISID, LAMPUNG BARAT — Setiap tahun, produksi bawang putih di Lampung Barat (Lambar) mencapai hampir 60 kuintal. Sedangkan untuk bawang merah bisa mencapai empat kali lipat dari produksi bawang putih. Data produksi itu yang terdapat di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Lambar.
Meskipun produksi bawang merah dan putih terbilang bagus, tetapi masih terkendala di pemasaran. Sehingga wajar komoditas ini belum banyak digeluti kalangan petani di kabupaten setempat.
Kepala Bidang (Kabid) Hortikultura Patoni melalui Kepala DTPH Yedi Ruhyadi mengaku, hingga sejauh ini belum ditemukan solusi untuk mengatasi pemasaran bawang merah dan putih tersebut di Lambar.
Diakui Patoni, secara kualitas bawang lokal yang dihasilkan petani di Lambar kalah dengan kualitas bawang asal Brebes dan pembeli pun lebih banyak meminati bawang asal Brebes, karena kadar air bawang Lambar masih cukup tinggi.
"Kalau kita bicara prospek, bawang merah dan putih ini sangat menjanjikan, hanya saja hingga saat ini pemasaran masih menjadi kendala dan hingga saat ini belum ada solusinya, karena harga bawang kita hanya berkisar Rp17 ribu sampai Rp25 ribu per kilogramnya, sedangkan bawang asal Brebes bisa mencapai 50 ribu,” kata Patoni, Senin (22/6/2020).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Patoni mengungkapkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan provinsi dan informasi terakhir provinsi siap menampung dengan harga yang belum ditentukan, karena itu pun belum final dan polanya seperti apa nantinya.
"Waktu itu pernah, tepatnya 2019, provinsi mengaku siap menampung hasil panen petani kita, tetapi belum ditindaklanjuti karena keburu selesai panen, sehingga belum ada tindaklanjut hingga hari ini,” kata Patoni.
Patoni memaparkan, untuk tahun 2020 ini, pihaknya mendapat bantuan bibit bawang untuk 25 hektar (ha) lahan, namun setelah adanya Covid-19 terjadi pemangkasan, menjadi masing-masing 10 ha untuk bawang merah dan putih, yang nantinya akan diserahkan kepada petani.(*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
