Tanpa Strategi Baru, PON 2028 Akan Menghukum KONI Lampung
lampung@rilis.id
-
Tidak semua cabang perlu diprioritaskan. Dalam keterbatasan sumber daya, keberanian memilih sama pentingnya dengan kemampuan membina.
Kedua, rekrutmen atlet berprestasi yang berdomisili di daerah harus dipandang sebagai kebijakan legal dan strategis—bukan kontroversi.
Jika dikelola transparan dan sesuai regulasi, langkah ini dapat menjadi penopang prestasi yang signifikan dalam waktu relatif singkat.
Ketiga, atlet yang telah berprestasi di level internasional—seperti SEA Games—harus dikunci dalam skema pembinaan jangka menengah. Atlet elite tidak boleh dilepas kembali ke sistem klub tanpa pengawalan.
Mereka adalah tulang punggung prestasi PON, yang membutuhkan dukungan sport science, proteksi cedera, dan kompetisi berkelanjutan.
Aspek lain yang kerap luput adalah fase kualifikasi. PON tidak bisa dimenangkan jika tiket saja gagal diraih.
Karena itu, PORWIL dan babak kualifikasi harus ditempatkan sebagai agenda strategis, bukan sekadar formalitas teknis.
Kasus Lampung menunjukkan bahwa PON 2028 bukan hanya tantangan daerah, melainkan refleksi persoalan nasional: apakah olahraga prestasi masih dikelola berbasis strategi, atau sekadar rutinitas anggaran tahunan.
Tanpa perubahan mendasar, PON 2028 akan menjadi ajang seleksi alam bagi provinsi yang tidak siap berubah. (*)
Tanpa Strategi Baru
PON 2028 Akan Menghukum KONI Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
