Tanpa Strategi Baru, PON 2028 Akan Menghukum KONI Lampung
lampung@rilis.id
-
RILISID, - — PEKAN Olahraga Nasional (PON) bukan sekadar ajang kompetisi atlet. Ia adalah cermin kapasitas tata kelola olahraga dan kepemimpinan kebijakan daerah.
Karena itu, PON 2028 harus dibaca sebagai momen krusial bagi banyak provinsi—termasuk Lampung—yang selama ini masih mengandalkan pola pembinaan konvensional.
Pada PON Aceh–Sumatera Utara, Lampung mencatat 22 medali emas dan menempati peringkat ke-12 nasional. Capaian ini patut diapresiasi.
Namun, memasuki PON 2028, realitas berubah drastis. Delapan medali emas dipastikan hilang karena cabang olahraga penyumbangnya tidak lagi dipertandingkan.
Ini bukan persoalan teknis atlet, melainkan defisit prestasi struktural akibat perubahan desain kompetisi.
Jika kondisi ini tidak diantisipasi sejak dini, penurunan prestasi bukan sekadar kemungkinan—melainkan hampir pasti terjadi.
Karena itu, mempertahankan 22 emas tidak bisa lagi ditempuh dengan pendekatan rutinitas organisasi.
Diperlukan pergeseran strategi menuju rekayasa prestasi (engineered medals): perencanaan prestasi berbasis data, peluang emas yang realistis, serta efisiensi pembiayaan.
Langkah pertama yang mendesak adalah restrukturisasi cabang olahraga unggulan.
Fokus harus diberikan pada cabang yang memiliki banyak nomor emas, kebutuhan infrastruktur rasional, dan peluang kompetitif di tingkat nasional.
Tanpa Strategi Baru
PON 2028 Akan Menghukum KONI Lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
