Peta Jalan Pendidikan Islam dan Desain Masa Depan Peradaban
Fi fita
Bandar Lampung
Konsep ini membuka peluang kontribusi besar pendidikan Islam dalam kepemimpinan etika global.
Dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi etika teknologi, PTKIN dapat berperan bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sebagai perumus arah moral perkembangan teknologi dunia sebuah kepemimpinan etis yang bersifat universal, dialogis, dan relevan dengan tantangan zaman.
Desain Peradaban Berbasis Cinta dan Nilai
Sebagai penegasan arah kebijakan pendidikan Islam ke depan, Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan pokok-pokok pemikiran strategis yang menjadi landasan konseptual dalam perumusan Peta Jalan Pendidikan Islam.
Pertama, Kurikulum sebagai Desain Umat Masa Depan. Masa depan umat Islam tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari proses pendidikan yang dirancang secara sadar, terarah, dan berkelanjutan.
Dalam perspektif ini, kurikulum tidak sekadar dipahami sebagai daftar mata pelajaran atau struktur akademik, tetapi sebagai kristalisasi nilai, visi, dan orientasi hidup suatu bangsa dan umat.
Apa yang diajarkan hari ini akan menentukan karakter, cara berpikir, serta kualitas peradaban di masa depan.
Sehingga, kurikulum harus diposisikan sebagai instrumen strategis kebijakan pendidikan Islam yang berfungsi membentuk manusia, masyarakat, dan peradaban secara utuh, bukan sekadar alat administratif pembelajaran.
Kedua, Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Ruh Pendidikan. Pendidikan Islam diarahkan untuk mengembangkan kurikulum berbasis cinta sebagai jiwa dari seluruh proses pendidikan.
Cinta dipahami bukan sebagai emosi sentimental, melainkan sebagai kekuatan etik dan moral yang melahirkan empati, kepedulian sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, serta tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.
Uin ril
universitas Islam Negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
