Pembalakan Liar di Depan Mata
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Saya pun bertanya basa basi "kayu ini mau dibuat apa pak".
“Ini macam-macam, bisa buat furniture meja kursi, bangun rumah, atau buat kafe juga bisa. Ini semua kalau diborong harganya bisa Rp15 juta," jelasnya.
Setelah berbasa-basi, saya pun pamit dan melanjutkan perjalanan pulang. Namun kejadian barusan membuat pikiran yang bergejolak.
Apa yang saya temui sore itu adalah potret kecil dari persoalan lingkungan yang lebih besar yaitu pembalakan liar.
Hutan yang jaraknya tak jauh dari jalan tol pun bisa digarap bebas begitu saja. Lalu di mana pengawasan? Ke mana pamong desa? Ke mana pihak berwenang?
Jika hutan di pinggir kota saja bisa ditebangi tanpa ragu, bagaimana dengan hutan di pedalaman yang jauh dari sorotan? Sudah pasti jauh lebih parah.
Saya tak tahu siapa mereka, berapa kali mereka menebang. Apakah pohon-pohon itu memang tumbuh di tanah milik mereka sendiri atau justru di kawasan hutan lindung yang semestinya dibiarkan lestari.
Yang pasti, pembalakan liar bukan sekadar soal pohon yang ditebang. Perbuatan itu adalah awal dari bencana longsor, banjir, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga krisis air.
Ketika pengawasan lemah dan kesadaran akan lingkungan juga abai, maka alam yang kelak akan menagih dengan harga yang sangat mahal. (*)
pembakalan liar
kerusakan hutan
opini Tampan Fernando
Tampan Fernando Hasugian
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
