Pembalakan Liar di Depan Mata
Tampan Fernando
Bandar Lampung
Mereka sedang mengangkat batang kayu yang sudah dipotong-potong menjadi papan. Tampaknya baru saja ditebang dari dalam hutan.
Pria itu kembali menahan saya dan sengaja memarkir sepeda motornya di Tengah jalan. Dia mulai menginterogasi.
“Kamu sebenarnya siapa? Orang mana, Ngapain naik ke atas?" tanya dia.
Saya mulai mengerti. Pertanyaan-pertanyaan itu sepertinya karena mereka terganggu karena saya masuk ke ‘wilayah’ mereka.
Mereka ingin memastikan saya bukanlah 'ancaman' atas aktivitas (kemungkinan ilegal) yang sedang mereka lakukan.
Saya pun memberitahu bahwa saya adalah akamsi alias warga setempat. Rumah saya hanya sekitar 2 km dari gunung itu.
Tapi dia menanya lagi "Jadi mobilnya parkir dimana?"
Saya jawab lagi, saya lari marathon dari rumah, tak pakai kendaraan. Untuk meyakinkannya, saya lalu menyebut beberapa nama tetangga saya yang mungkin dia kenal.
Ternyata ada beberapa yang dia juga kenal, bahkan ia menyebut satu nama masih saudara dekat dengannya.
Sejak itu ekspresinya berubah jadi lebih tenang dan ramah. Mungkin karena sudah lega dan tahu kehadiran saya bukan ancaman atas ‘bisnisnya’ itu.
pembakalan liar
kerusakan hutan
opini Tampan Fernando
Tampan Fernando Hasugian
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
