Ketahanan Infrastruktur Transportasi Kota Sebagai Dampak Banjir di Bandar Lampung

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandar Lampung

15 April 2026 10:13 WIB
Perspektif | Rilis ID
Oleh: Ir. Sari Anton, S.T., M.T., I.P.M. Foto: Ist
Rilis ID
Oleh: Ir. Sari Anton, S.T., M.T., I.P.M. Foto: Ist

RILISID, Bandar Lampung — Banjir yang kembali melanda Kota Bandar Lampung seharusnya tidak lagi dianggap sebagai peristiwa musiman semata. Kejadian ini merupakan peringatan nyata bahwa ketahanan infrastruktur perkotaan kita masih lemah.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menunjukkan banjir terjadi di puluhan titik, mulai dari Sukarame, Way Halim, Rajabasa, hingga Tanjungkarang dan Kedamaian. Luasnya sebaran genangan ini menegaskan bahwa banjir telah menjadi persoalan sistemik, bukan insidental.

Dalam konteks infrastruktur, kondisi ini menjadi semakin penting untuk dicermati. Berdasarkan Keputusan Wali Kota Bandar Lampung Nomor 344/III.03/HK/2025, Kota Bandar Lampung memiliki 509 ruas jalan dengan total panjang 478,024 km.

Dengan cakupan genangan yang diperkirakan mencapai sekitar ±2–5 persen dari total jaringan jalan, dapat diperkirakan bahwa sejumlah ruas mengalami dampak langsung.

Dampak tersebut tidak hanya bersifat lokal, tetapi berpotensi memengaruhi kinerja sistem transportasi kota secara keseluruhan.

Di balik genangan air yang terlihat di permukaan, terdapat masalah yang lebih serius terganggunya fungsi infrastruktur transportasi. Jalan sebagai urat nadi kota tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi, distribusi logistik, dan mobilitas masyarakat. Ketika jalan tergenang secara berulang, dampaknya meluas dari kemacetan hingga kerugian ekonomi.

Namun, persoalan yang kerap luput dari perhatian adalah kerusakan struktural jalan akibat banjir. Air yang menggenang tidak sekadar menghambat lalu lintas, tetapi juga meresap ke dalam lapisan perkerasan.

Akibatnya, daya dukung tanah menurun, lapisan pondasi melemah, dan kerusakan seperti retak, gelombang, hingga deformasi permukaan terjadi lebih cepat.

Berbagai studi menunjukkan bahwa jalan yang sering terendam mengalami percepatan penurunan kualitas dibandingkan kondisi normal, bahkan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama setelah banjir surut.

Kondisi ini semakin kompleks di kota berkembang seperti Bandar Lampung. Pertumbuhan kendaraan yang pesat tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai.

Menampilkan halaman 1 dari 3
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS
Tag :

Infrastruktur Transportasi Kota

Banjir di Bandar Lampung

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya