Tantangan Covid-19 untuk Kota Cerdas

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

6 April 2020 06:01 WIB
Perspektif | Rilis ID
Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir, ST, MA, IAI, Fellow Researcher di IGES (Institute for Global Environmental Strategies); Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung
Rilis ID
Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir, ST, MA, IAI, Fellow Researcher di IGES (Institute for Global Environmental Strategies); Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung

Imbauan untuk tinggal di rumah saja melalui gerakan #dirumahaja dan Work From Home ternyata tidak mudah dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, apalagi dalam jangka waktu yang cukup lama. Minimal 14 hari sesuai dengan masa inkubasi virus tersebut sehingga dapat menghentikan laju penularannya.

Masalahnya untuk kalangan masyarakat dengan penghasilan yang pas-pasan di mana tiap harinya mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hari itu juga, tidak ke luar rumah untuk bekerja menjadi suatu hal yang mustahil. Bahkan ketika mereka bekerja pun saat ini penghasilan mereka pun jauh berkurang karena imbas dari libur atau terhentinya berbagai tempat dan kegiatan masyarakat umum. Jelaslah mereka inilah yang paling terkena dampak dari pandemi yang tengah melanda saat ini.

Nah, jika tadi berbagai institusi pendidikan, pemerintahan, dan pelaku usaha telah mulai bisa dan terbiasa untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi khususnya teknologi informasi untuk tetap bisa berkegiatan dan produktif selama masa mengisolasi diri ini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana teknologi juga bisa berkontribusi untuk membantu masyarakat kelas menengah ke bawah tadi khususnya yang tinggal di wilayah perkotaan.

Di sinilah ujian sesungguhnya bagi konsep Kota Cerdas yang sejak awal kemunculannya di Indonesia pada lebih kurangsatu dasawarsa terakhir ini masih lebih terasa sebagai jargon belaka. Potensinya ada dan kasat mata karena Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat penggunaan internet tertinggi di dunia. Hanya saja memang faktanya baru sekitar 30 persen dari keseluruhan jangkauan layanan daring ini yang benar-benar bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjawab tantangan ini, tidak bisa dielakkan bahwa pemerintah kota dan daerah memiliki ”pekerjaan rumah” yang terbesar. Pemerintah kota-kota yang selama ini menggunakan ”jargon” Kota Cerdas dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan kotanya harus mampu membuktikan bahwa infrastruktur kotanya benar-benar ”cerdas” sesuai dengan definisi di atas. Ini bisa dimulai dari banyak hal misalnya dari keterbukaan, kecepatan, dan kelayakan dalam penyampaian informasi khususnya yang berkaitan dengan permasalahan pandemi saat ini.

Masih banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai tingkat bahaya dari penyebaran virus ini dan alasan dibalik imbauan untuk tetap tinggal di rumah. Informasi yang didapat kebanyakan hanya sepotong-sepotong melalui arus media yang sebagian besar malah tercampur dengan hoax dan sebaran isu yang tidak dapat dipercaya.

Seyogyanya pemerintah kota yang benar-benar cerdas memiliki prioritas dan perhatian dalam mengelola informasi untuk warganya sehingga kebijakan dan imbauan yang dikeluarkan akan mendapat respon yang baik dari warganya dan situasi akan tetap kondusif tanpa kepanikan yang berlebih. Pusat informasi atau media center formal yang misalnya berupa website resmi pemerintah harusnya memegang peranan penting utamanya dalam masa krisis seperti ini sesuai dengan perkembangan IoT (Internet of Things) saat ini.

Hal yang lain yang seharusnya menjadi perhatian dari penerapan Kota Cerdas adalah pengelolaan dan pemanfaatan database kependudukan yang baik dan terpadu.

Kemajuan teknologi dan inovasinya seharusnya diprioritaskan untuk mengoptimalkan komponen ini. Sehingga kebijakan apapun yang akan dilakukan memiliki dasar yang terukur dan obyektif. Semisal dalam membantu masyarakat kalangan menengah ke bawah dalam menghadapi masa-masa sulit seperti ini, pemerintah akan menjalankan kebijakan untuk memberikan bantuan langsung untuk kebutuhan hidup sehari-hari maka pemerintah kota yang benar-benar cerdas seharusnya tinggal mengacu sepenuhnya pada database yang ada.

Database ini tentunya harus terbuka, terpadu, dan terbarukan secara berkala. Terbuka artinya informasi terbuka untuk semua pihakdan dapat diakses secara daring, tentunya terkecuali yang bersifat pribadi. Terpadu artinya database ini melibatkan informasi dari berbagai lembaga yang saling melengkapi dan dapat dikoreksi serta digunakan secara bersama-sama. Terbarukan secara berkala berarti bahwa data dan informasi yang ada haruslah yang terbaru sehingga tepat sasaran.

Menampilkan halaman 3 dari 4

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya