Tantangan Covid-19 untuk Kota Cerdas

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

6 April 2020 06:01 WIB
Perspektif | Rilis ID
Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir, ST, MA, IAI, Fellow Researcher di IGES (Institute for Global Environmental Strategies); Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung
Rilis ID
Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir, ST, MA, IAI, Fellow Researcher di IGES (Institute for Global Environmental Strategies); Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung

Perkembangan IoT memang telah dapat mulai digunakan di beberapa sektor khususnya dunia pendidikan formal walaupun memang belum berjalan dengan mulus dan terukur. Namun momen pandemi ini seharusnya dapat dijadikan momentum dan alasan yang kuat bagi pemegang kebijakan di dunia pendidikan untuk menggodok dan bersiap mengimplementasikan secara penuh infrastruktur pendidikan berbasis teknologi di masa mendatang.

Dalam konteks penanggulangan bencana ini adalah contoh pendekatan adaptasi yang berfokus memberikan respon terhadap dampak yang terjadi. Harapannya sektor pendidikan bisa menjadi sektor terdepan dalam mewujudkan konsep Kota Cerdas yang sesungguhnya.Pasca pandemi ini, wacana Kota Cerdas seharusnya tidak melulu diperdebatkan pada perwujudan sarana dan prasaran fisik semata tapi lebih kepada bentukan inovasi dan solusi yang dihasilkan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan kota saat ini.

Contoh yang menarik datang dari Banyuwangi di mana penggunaan teknologi digital telah melahirkan inovasi di sektor kesehatan. Melalui pengembangan program ”Sistem Informasi Jaringan Elektronik Mendukung Pelayanan Optimal Kesehatan Banyuwangi (SI JEMPOL WANGI), pemerintah setempat mengedepankan pendekatan peningkatan kesehatan masyarakat dan pencegahan yang berbasis geospasial melalui pengenalan berbagai aplikasi.

Di Banjarmasin, pemerintah kota fokus mengembangkan Co-working Space dengan kelengkapan sarana prasana dan koneksi internetnya di salah satu fasilitas wisata yang populer untuk mewadahi kegiatan edukasi dan bisnis startup yang dipelopori oleh kaum millennial. Ini adalah upaya inovatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Sekadar informasi dari Sustainable Development Goals (SDGs) Report 2019, saat ini ada sekitar 2 miliar penduduk kota yang belum mendapatkan pelayanan pengumpulan sampah yang layak.Rata-rata tiap satu dari empat orang penduduk kota hidup dalam kondisi lingkungan yang kumuh. Baru sekitar separuh dari jumlah penduduk kota di dunia yang dapat merasakan sistem transportasi publik yang nyaman. Dan dari 10 orang penduduk kota, 9 orang di antaranya menghirup udara yang telah tercemar.

Mampukah konsep Kota Cerdas menjadi jawaban terhadap permasalahan-permasalahan tersebut? Pandemi COVID-19 saat inimenjadi contoh kasus dan tantangan yang besar dengan potensi dan peluang keberhasilan yang juga sama besarnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk menggunakan the power of kepepet”. (*)

Menampilkan halaman 4 dari 4
Prev

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya