Ironi Petani Lampung

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandarlampung

1 Maret 2022 07:00 WIB
Perspektif | Rilis ID
Ghraito Arip Hartono, Mahasiswa Universitas Lampung. Foto/ilustrasi: Kalbi Rikardo
Rilis ID
Ghraito Arip Hartono, Mahasiswa Universitas Lampung. Foto/ilustrasi: Kalbi Rikardo

RILISID, Bandarlampung — GEMAH ripah loh jinawi adalah sebuah ungkapan luhur dari masyarakat Indonesia.

Presiden Joko Widodo pun kerap menyampaikannya dalam beberapa agenda pertanian di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung.

Ungkapan tersebut menggambarkan betapa kaya raya alam Indonesia termasuk tanah Sang Bumi Ruwa Jurai yaitu Provinsi Lampung.

Jika diartikan, ungkapan gemah ripah loh jinawi berarti kekayaan alam yang berlimpah. Bahwasannya alam Indonesia memang kaya.

Saking berlimpahnya, ada pula syair lagu, yang menyebut 'Tanah kita tanah surga/batu dan tongkat jadi tanaman'.

Jika kita memang benar kaya, kira-kira ada yang pernah menghitung berapa total kekayaan alam Indonesia itu? Pasti tak terhingga.

Untuk itu, seharusnya para petani mendapat perhatian lebih dari pemerintah sehingga Indonesia pantas disebut sebagai negeri gemah ripah loh jinawi.

Namun kenyataannya tidak demikian. Petani terus menjerit dengan berbagai persoalan yang ada.

Kebijakan tentang Petani Berjaya yang ramai diagungkan oleh Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, tampaknya masih perlu dievaluasi bersama-sama.

Terlebih untuk mendukung swasembada pangan yang digaungkan Presiden Jokowi agar tidak terus melakukan impor terhadap pemenuhan kebutuhan pokok.

Menampilkan halaman 1 dari 6
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: gueade
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya