Kemah Sastra 2026 Hadirkan Akademisi Unila dan UIN RIL
Gueade
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Kemah Sastra 2026 yang diikuti 20 peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa menghadirkan pemateri Yinda Dwi Gustira dan Devin Cumbuan Putri di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Bandar Lampung, Kamis 9 April 2026.
Yinda menjelaskan, alih wahana adalah proses perubahan atau peralihan suatu karya seni dari satu jenis media (wahana) ke media lain.
Pengalih wahana ini mulai diminati, kata akademisi Universitas Lampung ini, misal dari puisi ke novel ataupun menjadi film.
“Seperti puisi ‘Hujan Bulan Juni’ karya Sapardi Djoko Damono,” katanya.
Selain itu, alih wahana dari karya seni bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu, yakni Lampung.
“Ini menandai bahwa pentingnya bahasa ibu bagi kelanjutan bahasa ini bagi generasi muda” ungkapnya.
Karena pribumi Lampung ada dua entitas, yakni saibatin dan pepadun, dimana dialeknya memiliki perbedaan, sesi alih wahana menampilkan pembicara dialek A dan O.
Ia menunjukkan dalam saibatin juga ada perbedaan dialek, bahkan antara kedua pengguna bahasa itu hanya berjarak 2 jam.
Menurut Yinda, tantangan alih wahana karya sastra Indonesia ke bahasa Lampung karena tidak semua penduduk di daerah ini menguasai bahasa Lampung.
Oleh sebab itu, ia berharap perbanyaklah belajar berbahasa Lampung.
Kemah Sastra 2026
Lomba Cipta Puisi
Cerpen
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
