Kasus Terorisme Menurun Tapi Intoleransi Meningkat, Ken Setiawan: Perlu Luruskan Makna 'Kafir'
Tampan Fernando
Bandar Lampung
RILISID, Bandar Lampung — Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan, menyampaikan bahwa Indonesia tidak mengalami serangan terorisme sama sekali dalam dua tahun terakhir, yakni sejak 2023 hingga 2025.
Ia menyebut ini sebagai capaian penting dalam penanggulangan terorisme di tanah air.
Ken mengapresiasi kinerja Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri yang dinilai berhasil melakukan langkah-langkah preventif, seperti menangkap pelaku sebelum mereka sempat melancarkan aksinya.
Namun di sisi lain, ia mengkhawatirkan lonjakan kasus intoleransi yang justru meningkat signifikan.
Penolakan terhadap pembangunan rumah ibadah hingga pelarangan aktivitas keagamaan masih sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
"Kehidupan kebangsaan dan keberagamaan kita kini mulai terancam oleh kelompok-kelompok intoleran. Paham seperti ini berpotensi mengganggu harmoni masyarakat dan mencederai martabat bangsa," kata Ken, Kamis (4/7/2025).
Ia menilai, upaya pencegahan terhadap intoleransi dan radikalisme masih belum menjadi prioritas negara.
Bahkan dari segi anggaran, menurutnya, kegiatan-kegiatan edukatif untuk mencegah intoleransi masih sangat minim.
"Ibarat sebuah pohon, buahnya terus dipetik tapi akarnya dibiarkan. Pohon itu akan terus berbuah setiap musim. Begitulah intoleransi jika tidak diberantas dari akarnya, akan terus melahirkan ancaman baru," ujar Ken.
Salah satu akar persoalan itu, menurutnya, terletak pada kesalahan dalam memahami istilah kafir. Ia menyoroti fenomena meningkatnya narasi pembenaran atas kekerasan terhadap pemeluk agama lain, yang dibungkus dalih agama.
Intoleransi
terorisme
Ken Setiawan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
