Kasus Terorisme Menurun Tapi Intoleransi Meningkat, Ken Setiawan: Perlu Luruskan Makna 'Kafir'
Tampan Fernando
Bandar Lampung
"Saat ini banyak orang tidak lagi mencari kebenaran, tapi pembenaran. Akibatnya, mereka yang berbeda agama dianggap musuh. Bahkan menghancurkan rumah ibadah dianggap sebagai jihad yang berpahala besar," tegasnya.
Padahal, lanjut Ken, para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, justru dikenal sebagai pribadi yang sangat toleran. Ia mencontohkan bagaimana Nabi pernah mengizinkan pendeta Nasrani beribadah di Masjid Nabawi.
Dalam Perjanjian Najran pun, umat Kristiani dijamin hak beragamanya, termasuk izin mendirikan gereja, bahkan diminta untuk dibantu jika memungkinkan.
"Nilai-nilai toleransi semacam itu justru jarang kita temukan di Indonesia hari ini," katanya.
Ken juga menegaskan bahwa kafir bukan sekadar sebutan bagi pemeluk agama lain, melainkan mereka yang menutup-nutupi kebenaran.
Musuh utama Nabi Muhammad di Mekkah—seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sufyan—bukan hanya karena beda keyakinan, tapi karena menolak ajaran keadilan sosial Islam yang mengancam posisi dan kekuasaan mereka.
"Kafir dan musyrik bukan semata tentang siapa menyembah siapa, tetapi mereka yang mempersekutukan dan menutup kebenaran demi kepentingan; mereka yang menukar keadilan dengan kekuasaan, serta membungkus kebencian dengan dalil agama," jelas Ken.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Agama, segera mengambil langkah strategis. Salah satunya adalah meluruskan pemahaman soal makna kafir dan menyosialisasikannya melalui jaringan penyuluh agama hingga tingkat desa.
"Jika tidak segera diluruskan, salah tafsir ini akan terus menjadi bahan bakar konflik dan memperuncing perpecahan. Kita butuh suasana yang damai meskipun berbeda-beda keyakinan," pungkas Ken.(*)
Intoleransi
terorisme
Ken Setiawan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
