Anak-Anak Itu Menari dengan Ingatan, Melukis Masa Depan
Juan Situmeang
Mesuji
Para penari, yang berlenggak lenggok di atas panggung ternyata penyandang tuna rungu.
Langkah yang ditarikan adalah gerak hati, bukan suara.
”Meski musik dimatikan, mereka tetap menari sampai selesai. Karena mereka mengingat dan menghitung sendiri tempo tarian,” ujar Ketua Komunitas Disabilitas Mesuji (KDM), Andi, di SLB Mesuji, Gedungram, Senin (20/7/2020).
Demikian halnya dengan bocah-bocah yang asyik melukis di atas kanvas.
Di bawah bimbingan salah satu penggiat komunitas tersebut, Salim --yang juga pelukis asal Mesuji, mereka mulai mengenal cara menggoreskan imajinasinya ke atas kanvas.
”Mereka berkomunikasi dengan kita dengan gerakan isyarat, karena mereka penyandang tunawicara. Tapi bakat mereka luar biasa,” puji Salim.
Dia mengaku baru satu bulan ini mengajarkan seni lukis. Tapi bakat mereka langsung terlihat. Meski, ia menyatakan sempat kesulitan di awal belajar.
”Karena ini pengalaman baru juga buat saya,” katanya.
Senada, pengarah tari, yang juga anggota KDM, Fahrul, mengungkapkan dirinya juga kali pertama ini membimbing ABK untuk memiliki keterampilan menari.
Awalnya, agak susah. Tapi setelah berjalan satu bulan ia sudah mulai bisa berinteraksi dengan mereka.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
