Anak-Anak Itu Menari dengan Ingatan, Melukis Masa Depan
Juan Situmeang
Mesuji
RILISID, Mesuji — Pagi yang cerah. Instrumentalia Lampung ”Siger Pengunten”, mengalun melalui pengeras suara langsung menyapa telinga. Sumber suara dari sound system sederhana.
Perangkat itu berada di bawah tenda. Di dalamnya sekelompok bocah laki-laki usia 7-12 tahun berlarian sambil tertawa.
Tak jauh ada panggung yang bisa dipakai hajatan dengan ukuran 4 x 6 meter.
Sebuah panggung pertama sejak Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Mesuji beroperasi pada 2017. Letaknya tepat di halaman sekolah
Sambil berlari-lari kecil, anak-anak itu menuju satu ruangan. Dii sana sudah dipersiapkan alat lukis lengkap dengan kanvas. Tidak lama, anak- anak mulai menyapukan kuasnya.
Di atas panggung lima dara cilik berjajar rapih. Jari lentik mereka sejajar di sisi pinggang. Sikap bersiap untuk mempersembahkan tarian. Pandangannya lurus ke depan ke arah tarup.
Di bawah tarup, seorang guru memberi aba-aba untuk memulai gerakan.
Dengan iringan instrumentalia Siger Penguten, penari cilik mulai beraksi. Gerakan-garakan mereka selaras dengan alunan nada.
Sepintas, tidak ada yang aneh dengan aktivitas bocah-bocah itu, menari dan melukis.
Namun, menjadi sangat istimewa karena mereka adalah anak berkebutuhan khusus (ABK).
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
