Teknologi Panca Kelola Salah Satu Rahasia Meningkatkan Produktivitas PAJALE di Lahan Rawa

Elvi R

Elvi R

Jakarta

23 September 2019 11:43 WIB
Bisnis | Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Kegiatan Upaya Khusus (UPSUS) dari Kementerian Pertanian bertujuan untuk meningkatkan produktivitas Padi Jagung dan Kedelai (Pajale) menuju Swasembada Pangan 2024, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) salah satu ujung tombak penanggung jawab UPSUS mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pada 17-18 September 2019, dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) untuk mempersiapkan masa tanam periode Oktober 2019 sampai dengan Maret 2020. 

Dalam sambutannya Kepala Balittra Ir. Hendri Sosiawan, CESA mengatakan bahwa salah satu kegiatan utama di Kementan adalah UPSUS Padi Jagung Kedelai, dimana harus ada capaian Luas Tambah Tanam untuk tiga komoditas utama tersebut. Kabupaten HST sendiri merupakan memiliki area rawa yang dinilai berpotensi untuk peningkatan produktivitas Pajale, terutama saat musim kemarau adalah saat yang cocok untuk bertanam tiga komoditas tersebut, selain itu Teknologi Panca Kelola merupakan salah satu rahasia meningkatkan produktivitas ketiga komoditi tersebut. Komoditi jagung saat ini merupakan komoditi yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan di lahan rawa maupun lahan kering, tiga tahun yang lalu jagung masih menjadi komoditi yang tidak banyak dilirik di Kalimantan Selatan (Kalsel) karena harga pipilan jagung pakan sangat rendah. Namun seiring berjalannya waktu, komoditi jagung menjadi primadona.

Pada kesempatan yang sama, Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten HST Ir. Misradi dalam sambutannya sekaligus membuka acara Bimtek mengatakan bahwa untuk Kabupaten HST hanya dua komoditi saja yang bisa ditingkatkan (Padi dan Jagung), sedangkan untuk kedelai sendiri hanya ada beberapa daerah saja yang menanam itupun dikarenakan mendapatkan program bantuan kecuali beberapa sebagian kecil petani yang memang menanam kedelai untuk konsumsi pribadi.

Menurut Narasumber Bimtek, Prof. Masganti mengatakan bahwa selama ini beberapa varietas unggul dilepas dengan spesifik lokasi, seperti padi yang dilepas untuk toleran rendaman (Inpara= Inbrida padi rawa),  adaptif untuk lahan lahan irigasi (Inpari= inbrida padi Irigasi) dan adaptif untuk ladang (Inpago= Inbrida Padi gogo).  Dari sekian padi yang spesifik lokasi tersebut, terdapat beberapa varietas padi yang bersifat amphibi, yaitu dapat tumbuh dan beradaptasi pada lahan kering dan lahan basah (rawa) seperti Inpago 5, Inpago 7-11, Ciherang, Situbagendit, Situpatenggang, Mekongga, Inpari 10.

Peneliti Balittra Dr. Wahida Annisa menjelaskan tentang  penanaman jagung dengan sistem tanam zigzag yang akan memberikan keuntungan peningkatan produksi, karena populasi lebih banyak dibanding penananam  biasa. Dalam pemeliharaan tanaman satu hal yang perlu diperhatikan adalah pembumbunan pada akar buku-buku batang bagian bawah tanaman jagung. Akar nafas ini jika dibumbun, maka akan berubah fungsi menjadi penyerap hara, sehingga produksi jagung meningkat dengan berat pipilan yang tinggi dan berat janggel yang ringan. Selanjutnya materi Bimtek tentang Hama dan penyakit tanaman Pajale yang disampaikan oleh Dr. Mukhlis. Ada 4 strategi utama dalam pengendalian, diantaranya adalah : Pengelolaan tanaman sehat, Pengendalian secara hayati, Pengendalian secara mekanis/fisik, dan pengendalian secara kimia. 

Selesai penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan praktek penggunaan alat tanam jagung yang di demontrasikan oleh Teknisi Kebun Balittra, Asep Sanjaya. Cara mengatur tanaman agar bisa zigzag membutuhkan 3 orang pekerja, 2 oran gpekerja membawa tali rafia yang sudah diukur dimana setiap sisi berjarak 12,5 sentimeter dan jarak antara segitiga tanaman satu dengan segitiga tanaman lain 75 setimeter, satu orang menjalankan alat tanam yang sudah disesuaikan dengan ukuran tersebut, untuk pengisian benih satu lubang tanam berisi hanya satu benih saja. 

Selain Bimtek UPSUS dilakukan juga kegiatan “Participatory Rural Appraisal” (PRA) yang merupakan kegiatan teknik pengumpulan informasi dan pengenalan kebutuhan masyarakat yang melibatkan secara langsung dan secara aktif partisipasi masyarakat itu sendiri yang dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Limpaso yang melibatkan 20 petani sebagai sampel yang mengisi kuesioner. Pertanyaan kuesioner meliputi  penanaman tanaman kedelai diantaranya, luas tanam, luas panen, hasil/produksi yang didapat,  varietas yang diinginkan, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, kendala, pemasaran dan harga jual. Kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi pada penanaman kedelai. Acara dipandu Prof. Masganti, mengurutkan masalah-masalah tersebut dari yang utama sampai pada masalah terkecil sehingga akan memudahkan dalam pemberian solusinya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya