Sensi-1 Agrinak, Ayam Pedaging Unggul Balitbangtan

Elvi R

Elvi R

Jakarta

11 Februari 2020 07:16 WIB
Bisnis | Rilis ID
Ayam Sensi-1 Agrinak. FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
Ayam Sensi-1 Agrinak. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Indonesia kaya akan sumberdaya genetik termasuk berbagai jenis ayam lokal asli maupun lokal pendatang. Berbagai jenis ayam ini tersebar diseluruh kepulauan di Indonesia. Daging ayam lokal sangat disukai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Perkembangan kuliner di Indonesia yang begitu pesat menyebabkan meningkatnya kebutuhan pasokan ayam lokal.

Oleh karena itu untuk memenuhi permintaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melakukan upaya peningkatan produktifitas ayam lokal melalui seleksi dan persilangan terencana, serta sistem perbanyakannya yang baik dengan kualitas dan kuantitas yang berkesinambungan. Pembentukan galur unggul ayam lokal pedaging sangat diperlukan dalam rangka pengembangan ayam lokal secara nasional.

Pembentukan galur murni SenSi 1 Agrinak ini, merupakan rangkaian dalam membangun kakek atau grand parent stock, (GPS) dan tetua parent stock (PS) untuk memproduksi DOC ayam lokal asli. DOC akan dijadikan sebagai bakalan ayam lokal potong niaga final stock, (FS) yang unggul dalam aspek pertumbuhan dan efissiensi disamping rasa dan textur daging khas ayam lokal asli (native).

Ayam SenSi 1 Agrinak dibentuk dari sumberdaya genetik atau dapat juga disebut sebagai diverse line rumpun ayam Sentul yang berasal dari wilayah Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat. Metoda seleksi dilakukan terhadap individu ayam pada umur 70 hari.

Kriteria seleksinya adalah warna bulu ABU untuk sub galur SenSi ABU dan warna bulu putih bercak hitam (PUCAK) untuk sub galur SenSi PUCAK. Bentuk jengger pea sebagai bentuk jengger dominan dan bobot hidup ayam-ayam jantan 25 persen tertinggi dalam populasi generasinya.

Galur ayam SenSi 1 Agrinak selain mempunyai keunikan warna bulu ABU dan PUCAK serta postur yang seragam (88 persen). Juga mempunyai keunggulan pertumbuhan dengan bobot hidup pada umur 70 hari mencapai 800 – 1000 gram per ekor (unsexed). Sedangkan yang lebih tinggi dari bobot hidup diverse line atau populasi dasarnya (Sentul non seleksi) yang hanya mencapai rata-rata 627 gram per ekor (unsexed). Produksi telur rata-rata SenSi 1 Agrinak sampai umur 65 minggu mencapai 39,92 persen. 

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya