Kata Greenpeace, Dana Sawit Tak Tepat Sasaran

Default Avatar

Anonymous

Jakarta

18 Februari 2018 23:14 WIB
Bisnis | Rilis ID
Perkebunan sawit. FOTO: ditjenbun.pertanian.go.id
Rilis ID
Perkebunan sawit. FOTO: ditjenbun.pertanian.go.id

RILISID, Jakarta — Greenpeace Indonesia menilai pengelolaan dana sawit untuk sejumlah perusahaan industri bahan bakar nabati (biofuel) tak tepat sasaran. Karenanya, dana sawit disarankan dialihkan untuk penelitian untuk meningkatkan produksi sawit.

"Dana tersebut seharusnya fokus digunakan untuk penelitian, pengembangan, dan peremajaan supaya bisa meningkatkan kualitas dan kapasitas perkebunan sawit yang sudah ada," ujar Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Asep Komarudin, via siaran pers di Jakarta, Minggu (18/2/2018).

Menurutnya, tak perlu ada lagi pembukaan lahan sawit di lahan gambut atau kawasan hutan. Alasannya, kerap menjadi penyebab bencana kebakaran hutan dan lahan gambut.

Asep menambahkan, ada lima perusahaan sawit besar yang mendapatkan kucuran dana sekitar Rp7,5 triliun melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) medio Januari-September 2017. Hal itu, dianggap bertentangan dengan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Pasal 11 ayat (1) Perpres Nomor 24 Tahun 2016 menjelaskan, "Dana yang dihimpun adalah untuk pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan perkebunan sawit, promosi perkebunan kelapa sawit, peremajaan tanaman perkebunan, serta prasarana perkebunan sawit." Sedangkan ayat (2), "Penggunaan dana itu, juga dipakai untuk kebutuhan pangan, hilirisasi industri dan pemanfaatan bahan bakar nabati jenis biodiesel."

"Kami berpandangan, konversi lahan dan sistem subsidinya untuk penyediaan biofuel tidaklah tepat. Seharusnya, subsidi sebesar itu bisa digunakan untuk ketahanan pangan atau bahkan menjawab kebutuhan petani sawit mandiri," tandas Asep.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya