HIPA 18, Produk Litbang Untuk Produksi Padi Rawa Lipat Ganda

Elvi R

Elvi R

Jakarta

24 September 2019 18:57 WIB
Bisnis | Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan
Rilis ID
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Peningkatan produktivitas lahan, termasuk lahan rawa tergantung pada teknologi pengelolaan tanah dan air, teknologi varietas, dan teknologi budidaya. Badan Litbang Pertanian terus mengembangkan varietas padi unggul lahan rawa. Hingga saat ini Badan Litbang Pertanian telah melepas 21 varietas unggul hibrida (VUH) dengan potensi hasil tinggi, dan beberapa keunggulan ketahanan terhadap hama dan penyakit utama dan mutu, dengan rata-rata produksi benih 1,5-2 ton per hektar. Salah satu jenis varietas unggul hibrida yang mampu tumbuh optimal di lahan rawa adalah HIPA 18. Varietas padi HIPA 18 merupakan persilangan 2 varietas berbeda yang memiliki produksi lebih tinggi karena pengaruh heterosisnya.

Badan Litbang Pertanian, selain melakukan pengembangan dan penelitian, juga memberikan bantuan benih padi kepada petani. Melalui Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Balitbangtan menyerahkan benih padi unggul Hibrida Varietas HIPA 18 ke petani Tamban Catur, Kabupaten Kuala Kapuas (23/09/2019).  Penyerahan bibit secara simbolis dilakukan oleh peneliti Balittra Ir. M. Saleh, MP. Menurut Dr. Wahida Annisa Yusuf selaku penanggung jawab kegiatan, “Ini adalah program dari kegiatan penelitian dan pengelolaan lahan pasang surut yang ramah lingkungan”.

Pada saat penyerahan bibit tersebut, Dr. Wahida juga menjelaskan bahwa “Varietas HIPA 18 adalah varietas padi hibrida unggul dengan potensi produktivitasnya mencapai 12,8 ton per hektare gabah kering panen (GKP) atau jauh di atas rata-rata nasional yang hanya sekitar 5 – 6 ton per hektar”, paparnya.

Varietas HIPA 18 ini mempunyai keunggulan tahan terhadap penyakit hawar daun, bakteri, blast dan tahan serangan hama wereng batang coklat. Padi ini mempunyai umur panen 113 hari dengan potensi hasil panen mencapai 10,3 ton gabah kering (GKG) per hektar. Padi ini juga tahan rontok dan rebah, dengan tekstur nasi yang agak pulen (kadar amilosa 22,7 persen). Diharapkan varietas tersebut bisa memenuhi keinginan petani untuk bisa digunakan di lahan-lahan subotimal potensial, seperti lahan pasang surut, dan pada musim tanam kedua nantinya diharapkan dapat mengungguli produktivitas dari varietas unggul Argo Pawon. 

Sebelumnya, HIPA 18 mampu beradaptasi di lahan pasang surut potensial di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Sehingga kedepan, penggunaan varietas unggul hibrida ini dapat menyumbang peningkatan produksi padi nasional, lebih dari itu dapat mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. 

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya