Bawang Putih Bergejolak, Fauzih Amro Duga Permainan Kartel
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Satuan Tugas (Satgas) Pangan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) diminta merespons gejolak harga bawang putih. Sebab, diyakini meroketnya harga komoditas bumbu dapur ini disebabkan kartel.
"Perlu dong. Ini saatnya Satgas Pangan menunjukkan jati dirinya. Dan KPPU menunjukkan, ada kartel di balik ini, ada mafia di balik (gejolak harga) ini," ujar Anggota Komisi IV DPR RI, Fauzih Amro, saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Jumat (6/5/2018).
Selain mengusut dugaan kartel, menurut politisi Partai Hanura itu, Satgas Pangan dan KPPU juga disarankan mengecek langsung data bawang putih. "Dan yang sudah mau diimpor," tuntas legislator asal daerah pemilihan Sumatera Selatan I ini.
Sejak awal 2018 hingga kini, harga bawang putih mengalami kenaikan. Bahkan, nilainya lebih besar dibanding 13 komoditas pangan lain, seperti aneka cabai, tepung, telur, ayam, daging, beras, kedelai, dan gula.
Merujuk data Kementerian Perdagangan (Kemendag), harganya pada 3 April naik 43 persen daripada 2 Januari. Tanggal 3 April, harganya Rp33.197 per kilogram. Sedangkan 2 Januari, cuma Rp23.122 per kilogram.
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Fadli Zon, sebelumnya menduga, melejitnya harga bawang putih di pasaran disebabkan kartel. Berdasarkan informasi yang diterimanya, 13 importir menguasai pasaran dan mengatur harga bawang putih.
Baca: Fadli Zon Desak Pemerintah Bongkar Kartel Bawang Putih
Dihubungi terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ditjen Hortikultura Kementan, Yasid Taufik, menyatakan, pihaknya telah menerbitkan rekomendasi impor bawang putih sebanyak 490 ribu ton. Nilanya setara 95 persen kebutuhan nasional selama 2018.
Rekomendasi tersebut, imbuhnya, dikeluarkan untuk sejumlah importir yang memenuhi persyaratan sesuai prosedur berlaku. Rekomendasi juga dikeluarkan secara cermat dalam tempo secepat-cepatnya guna memastikan ketersediaan barang di pasaran.
"Karena kalau kita main-main, nanti berpengaruh sama harga. Bukan cuma masyarakat 'menjerit', tapi inflasi. Kalau sudah inflasi dan nilainya tinggi, dampaknya luas," terang Yasid.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
