Fitria, Siswi SMP Asal Lampung Ikuti Lomba Nasional Compassionate Gamification Challenge 2025
Tampan Fernando
Bandar Lampung
“Makanya kadang anak yang sedang bermain game tim itu ketika dipanggil seolah tidak menyahut karena sedang fokus. Jadi bukan karena tidak mendengar, bukan pula karena berniat melawan orang tua,” tambahnya.
Anak yang sedang fokus bermain game otomatis harus sering main supaya paham posisi dan cemistri dengan rekan satu tim.
Dari hal inilah kadang banyak pemain game di vonis dan disamakan dengan aksi kenakalan remaja, tawuran, narkoba dan kriminal, penyebabnya mungkin karena tidak bisa membagi waktu.
Fitria menuturkan bahwa tak banyak orang yang tahu bahwa Game Mobile Legend itu mengajarkan kita tentang pentingnya kemampuan skil dan kekompakan.
Masing masing pemain punya skil dan kemampuan yang berbeda beda, ada saatnya maju menyerang, bertahan dan ada pula saatnya mundur.
“Kalau kita tidak punya kemampuan skil, maka kita akan menjadi beban tim, seperti minion yang akan di pukul dan menjadi makanan hero lawan,” jelasnya.
Fitria berharap di tengah perkembangan teknologi saat ini, anak-anak dan remaja tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta.
Dunia digital menawarkan banyak alat kreatif yang memungkinkan siapa saja untuk belajar dan berkarya dari rumah. (*)
Fitria Khasanah
developer game
Lampung
Ken Setiawan
game anak
Compassionate Gamification Challenge
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
