PTKIN dan Perlawanan terhadap Gengsi Pendidikan
Fi fita
Bandar Lampung
Anggapan bahwa PTKIN hanya mengajarkan ilmu agama sudah lama tidak sesuai dengan kenyataan.
Transformasi kelembagaan PTKIN, terutama melalui perubahan IAIN menjadi UIN, telah memperluas cakrawala keilmuan secara signifikan.
Kini, PTKIN membuka program studi di bidang sains, teknologi, ekonomi, hukum, komunikasi, psikologi, bahkan kedokteran.
Yang membedakan bukan pada jenis ilmunya, melainkan cara ilmu itu dipahami dan dipraktikkan. Di PTKIN, ilmu tidak berdiri di ruang hampa nilai.
Sains tidak dilepaskan dari etika, ekonomi tidak dipisahkan dari keadilan, dan hukum tidak dibaca sekadar sebagai teks, tetapi sebagai instrumen kemaslahatan.
Namun sayangnya, transformasi ini sering kalah nyaring dibandingkan promosi kampus bergengsi lainnya. PTKIN bekerja dalam senyap, sementara gengsi pendidikan terus diproduksi secara masif.
Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak lulusan hebat, gelar mentereng, dan teknologi canggih.
Namun, yang kerap kita rasakan justru krisis kejujuran, krisis empati, dan krisis keadaban publik. Ini menunjukkan satu hal sederhana: ilmu tanpa nilai mudah kehilangan arah.
Di sinilah PTKIN menemukan relevansinya. Dengan tradisi kajian keislaman yang dibangun secara kritis dan kontekstual, PTKIN menempatkan nilai sebagai kompas utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Mahasiswa tidak hanya diajarkan untuk berpikir logis, tetapi juga diajak mempertimbangkan dampak sosial dan kemanusiaan dari setiap pengetahuan yang dimiliki.
Uin ril
universitas Islam Negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
