PTKIN dan Perlawanan terhadap Gengsi Pendidikan
Fi fita
Bandar Lampung
Sehingga, PTKIN sering kali kalah sejak awal bukan karena kualitasnya rendah, melainkan karena ia tidak cocok dengan imaji prestise yang dibangun selama ini.
Label “kampus agama” masih dibaca secara sempit, seolah-olah identik dengan dunia yang terbatas, konservatif, dan jauh dari dinamika modern. Padahal, asumsi itulah yang justru bermasalah.
Di tengah dunia yang serba cepat dan serba instan, pendidikan tinggi pun ikut terseret arus.
Kampus dituntut menghasilkan lulusan secepat mungkin, siap kerja secepat mungkin, dan relevan dengan kebutuhan industri hari ini.
Tidak ada yang salah dengan orientasi tersebut, tetapi menjadi berbahaya ketika pendidikan direduksi hanya menjadi mesin pencetak tenaga kerja.
PTKIN mengambil jalur yang berbeda. Ia tidak menolak profesionalisme, tetapi menolak tergesa-gesa.
Di PTKIN, pendidikan tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.
Mahasiswa diajak bertanya bukan hanya bagaimana hidup sukses, tetapi juga untuk apa kesuksesan itu digunakan.
Di tengah krisis integritas dan kerusakan sosial yang kita saksikan setiap hari, pertanyaan semacam ini terasa semakin relevan.
Melampaui Sekat Kampus Agama
Uin ril
universitas Islam Negeri lampung
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
