Pesan untuk Nikita Mirzani, Cerita Mbak Tutut Ketika Berhijab
Anonymous
Jakarta
“Wuk, kamu sekarang berkerudung terus?”
“Iya Pak.” Saya menjawab sambil membatin kok tumben Bapak bertanya seperti itu.
“Kenapa sekarang, kamu mau terus memakai kerudung?” Bapak bertanya lagi.
“Karena, selain perintah Allah, juga saya merasa lebih percaya diri dan lebih sabar Pak,” saya mencoba menjelaskan pada Bapak.
“Bukan karena ingin gaya-gayaan saja, atau menarik perhatian orang lain?” Bapak memotong bicaraku.
“Tidak Pak.”
“Sudah bulat tekadmu untuk memakai kerudung selamanya?”
“Insya Allah sampun (sudah) Bapak."
“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Alhamdulillah…. Bapak dan Ibu akan selalu mendukungmu. Hanya Bapak minta, jangan sampai kamu sekarang berkerudung, setahun kemudian kamu lepas, setahun kemudiannya kamu pakai lagi. Laksanakan secara istikomah. Bersikaplah sebagai seorang Muslimah yang baik, karena kamu tidak saja memakai kerudung di kepala. Tetapi hatimu juga berkerudung ajaran-ajaran Allah. Pijakkan langkahmu selalu di jalan Allah, tindakanmu selalu bertumpu dalam petunjuk Allah. Mantapkan ibadahmu, perbanyak amalmu, isilah kehidupan dunia dalam taatmu pada-Nya, untuk menyempurnakan kehidupan akhiratmu. Insya Allah, Tuhan akan selalu melindungi dan membimbingmu …."
“Aamiin …”. Tak dapat kubendung tangisku mendengar wejangan Bapak. Saya langsung sungkem mencium lututnya, sambil berusaha untuk bisa bicara. “Matur sembah nuwun Bapak (Terima kasih Bapak). Dalem nyuwun pangestu (saya mohon doa restu).”
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
