Sekjen Demokrat: Arinal-Nunik Diduga Lakukan Politik Uang
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan menduga adanya money politic pada Pilgub Lampung yang dilakukan pasangan Arinal Djinaidi-Chusnunia Halim (Arinal-Nunik).
“Berdasarkan laporan dan bukti-bukti yang kami terima, bahwa diduga telah terjadi perbuatan politik uang secara besar-besaran yang diduga dilakukan oleh pasangan calon Arinal Djinaidi-Chusnunia Halim nomor urut 3,” kata Hinca dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (6/7/2018).
Politik uang tersebut, kata Hinca, dilakukan dalam berbagai bentuk pemberian kepada masyarakat. Di antaranya pemberian uang tunai yang di masukkan ke dalam amplop dengan besaran berbeda mulai Rp50 ribu - Rp200 ribu yang kemudian dibagikan kepada masyarakat seluruh desa di Lampung menjelang hari H pemilihan.
“Politik uang tersebut juga diduga melibatkan salah satu tokoh pengusaha di Lampung yang menjadi sumber dana politik uang tersebut,” terangnya.
Ia menambahkan, laporan atas dugaan money politik tersebut sudah dilaporkan ke Bawaslu Provinsi Lampung. "Politik Uang yang Terstruktur, Sistematis dan Massif, serta akan disidangkan oleh Bawaslu dengan ancaman diskualifikasi pada pelaku dan penyelenggaraan pemungutan suara ulang,” pungkasnya.
Diketahui, Hasil Pilgub Lampung, pasangan Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim menang. Berikut hasil final quick count sejumlah lembaga:
SMRC
(Data terkumpul 100 persen)
Muhammad Ridho Ficardo-Bachtiar Basri 24,83 persen.
Herman Hasanusi-Sutono 25,50 persen.
Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim 38,32 persen.
Mustafa-Ahmad Jajuli 11,35 persen.
Charta Politika
(Data terkumpul 100 persen)
Muhammad Ridho Ficardo-Bachtiar Basri 24,47 persen.
Herman Hasanusi-Sutono 27,6 persen.
Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim 36,75 persen.
Mustafa-Ahmad Jajuli 11,18 persen.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
