Sebut Jokowi Lemah, Natalius Pigai: Komnas HAM Sudah Beri Rapor Merah

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

18 Desember 2018 15:30 WIB
Elektoral | Rilis ID
Natalius saat menjadi pembicara dalam diskusi Topic Of The Week, "Keamanan Pilpres 2019, Optimisme atau Kekuatiran?" di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Selasa (18/12/2018). FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin
Rilis ID
Natalius saat menjadi pembicara dalam diskusi Topic Of The Week, "Keamanan Pilpres 2019, Optimisme atau Kekuatiran?" di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Selasa (18/12/2018). FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin

RILISID, Jakarta — Mantan anggota Komnas HAM, Natalius Pigai, menyebut, calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo sudah mulai lemah untuk bertarung di Pilpres 2019. Apalagi, menurutnya, Jokowi sudah mendapatkan rapor merah dari Komnas HAM.

"2018 Komnas HAM sudah berikan rapor merah kepada Jokowi. Dan itu satunya-satunya presiden yang diberikan rapor merah oleh Komnas HAM. Artinya kita sudah pincangkan satu kaki Jokowi," kata Natalius saat menjadi pembicara dalam diskusi Topic Of The Week, "Keamanan Pilpres 2019, Optimisme atau Kekuatiran?" di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Tak hanya Komnas HAM, ujar Natalius, lembaga terpercaya seperti KontraS juga memberikan penilaian negatif terhadap Jokowi. Hal itu, menurut dia, menjadi alasan bahwa Jokowi sudah semakin lemah di Pilpres 2019 ini.

"KontraS saja sudah katakan Jokowi adalah mulut buaya. Kalau lembaga-lembaga kredibel seperti itu kepada Jokowi, mau apa dia. Makanya kalau mau bertarung silakan dari aspek ekonomi saja," ujar dia.

Natalius juga mengaku kerap mendapatkan ancaman dari kubu Jokowi. Dengan begitu, lanjut dia, Jokowi sudah merasa ketakutan untuk bisa terpilih kembali untuk periode keduanya.

"Ancaman bagi saya adalah hal biasa. Kalau ada ancaman bagi saya mereka sudah mulai ketakutan dan sejauh ini yang sudah melakukan ancaman adalah dari pihak Jokowi. Makanya saya yakin 2019 akan ada perubahan," ungkapnya.

Sementara itu, politisi Partai Demokrat, Benny K Harman, menilai, kontestasi Pilpres 2019 adalah momentum rakyat untuk memilih dan menentukan pemimpin. Untuk itu, menurut dia, inilah saatnya rakyat mengevaluasi dan menimbang ulang pemimpin yang dipilih lima tahun lalu.

"Kalau dianggap gagal ya jangan dipilih lagi. Makanya kita tidak hanya membuat pemilu menghasilkan pemimpin, tapi dengan melakukan proses-proses pemilu yang transparan dan akuntabel," tuturnya. 

Menurut Benny, proses pemilu yang tidak akuntabel dan transparan, justru akan membuat rakyat cemas. Selain itu, hasil dari pemilu itu juga akan tidak baik. 

"Proses-proses yang tidak akuntabel, transparan dan penuh tipu muslihat justru akan membuat kita cemas di mana pemimpin yang muncul dan dilantik adalah pemimpin yang dihasilkan dari proses seperti itu," tandasnya. 

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Elvi R
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya