Politik Uang, malah Bisa Jadi Bumerang
Budi Prasetyo
RILISID, — RILIS.ID, Surabaya— Peneliti Senior, Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam memandang, saat ini politik uang hanya efektif bagi kalangan masyarakat di pedesaan khususnya yang memiliki pendidikan minim.
Dia mengimbau, peserta pemilu agar sangat berhati-hati dan bijak untuk tidak menggunakan politik uang.
“Sekarang ini budaya bagi-bagi uang atau katakanlah sudah semakin tidak populer. Masyarakat sudah mulai meningkat literasi politiknya. Budaya politik uang, justru malah bisa jadi bumerang,” katanya pada Senin (18/12/2017).
Pria yang juga Dekan FISIP dari Universitas Trunojoyo, Madura ini menjelaskan, bumerang yang dimaksudkan adalah pola politik uang justru bakal menjadi strategi yang kontra produktif bagi mereka yang menggunakan metode tersebut.
“Terlebih lagi apabila diterapkan di daerah urban. Survei SSC periode lalu juga menunjukkan hal yang sama. Jika masih ada paslon (pasangan calon) yang meyakini bahwa politik uang masih sangat relevan, maka paslon tersebut sudah bisa dipastikan tidak update hasil survei. Patut dikasihani yang begitu itu,” jelasnya.
Sebelumnya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengaku, potensi politik uang dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 masih tinggi. Hal tersebut sesuai tingginya temuan dalam tiap "pesta demokrasi" di Jatim.
"Memang, money politic di Jatim masih banyak muncul," kata Anggota Bawaslu Jatim, Aang Kunaifi, di Surabaya, Senin (18/12/2017).
Karenanya, Bawaslu mengimbau kepada peserta tak melakukan politik uang. Jika terbukti, kontestan bakal dicoret kepesertaannya, selain terancam sanksi pidana.
"Kalau Bawaslu, sanksi yang diterapkan tegas, tidak hanya tindak pidana saja. Kalau ada bukti kuat, maka calon bisa didiskualifikasi," tegas Aang.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
