Pola 'Menyerang' Kubu Prabowo dalam Kampanye Dinilai Tepat
Budi Prasetyo
Surabaya
RILISID, Surabaya — Pengamat komunikasi politik dari Universitas Airlangga (Unair), Suko Widodo, mengatakan strategi menyerang yang ditetapkan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai sudah tepat.
Dengan mengkritik kebijakan petahana, maka kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin harus bertahan.
"Bagi penantang, hanya dengan strategi menyerang petahana untuk bisa membuat lawan bergeming," kata Suko saat dikonfirmasi pada Rabu (17/10/2018).
Dia mengatakan, Pilpres 2019 diperkirakan akan berlangsung sangat ketat. Pasalnya, hanya ada kedua calon, sehingga penantang harus kritis untuk mendulang suara.
"Lah memang hanya dengan acara demikian, apalagi ini kan head to head, bisa dapatkan suara," tambahnya.
Menurut dia, ada dua poin keuntungan yang didapat Prabowo ketika melancarkan serangan ke kubu Jokowi.
"Dengan menyerang, berharap pihak lawan repot hadapi atau merespons serangan tersebut. Yang kedua publik mendukung atau sepakat terhadap opini yang diserang kan tersebut," pungkasnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, mengibaratkan kampanye politik menjelang Pemilu seperti bermain bulutangkis. Di mana bisa saja mendapatkan poin dari kesalahan lawan.
"Dapat poin kalau 'smash' dengan benar. Tapi dapat poin juga kalau lawan kita salah. Artinya untuk kampanye ini, berbuatlah yang positif dan jangan bikin kesalahan," kata Kalla Kantor Wapres seperti dilansir Antara, kemarin.
Menurut dia, tiga jenis kampanye yang sering digunakan oleh pasangan capres-cawapres dalam Pemilu adalah kampanye positif, kampanye negatif dan kampanye hitam.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
