Peringati Hari Santri, Prabowo-Sandiaga Akan Napak Tilas Resolusi Jihad Hasyim Asy'ari
Budi Prasetyo
Surabaya
Hari Santri Milik Indonesia
Katib 'Aam PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengemukakan Hari Santri Nasional bukan hanya milik Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah, melainkan milik Indonesia.
"Santri bukan hanya 'trademark' NU atau Muhammadiyah saja, tetapi santri selalu mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara," kata Yahya Cholil Staquf seperti dilansir Antara di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya di Malang.
Universitas Brawijaya (UB) Malang memeringati Hari Santri Nasional ketiga dengan menyelenggarakan Seminar Kebangsaan bertema "Peran Santri dalam Memperkokoh Persatuan Bangsa".
Acara ini menghadirkan Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, dan intelektual dari Muhammadiyah Dr Zuly Qodir.
Yahya Staquf menegaskan santri itu bukan milik NU saja, tapi milik semua kalangan, golongan yang cinta Tanah Air dan keindonesiaan. Memang selama ini pondok pesantren banyak dikelola NU, tapi bukan berarti santrinya hanya milik NU.
Menurut Yahya Staquf, tradisi santri ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Santri adalah tradisi intelektual Nusantara yang tumbuh selama berabad-abad sejak zaman pra-Islam.
Sebelum ada pendidikan model barat yang diadopsi saat ini, pendidikan Nusantara terjadi di padepokan-padepokan dengan resi-resi. Para resi tinggal dengan murid-muridnya, dan sebelumnya bernama cantrik. "Mereka inilah santri," ujarnya.
Oleh karena itu, peringatan Hari Santri Nasional menjadi bukti dukungan keberadaan pondok pesantren melalui regulasi dan kebijakan.
"Tujuannya, menghidupkan kembali tradisi intelektual Nusantara, melalui pondok pesantren bisa semakin meningkat kapasitasnya," tuturnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
