Kubu Prabowo Mainkan Isu 'Kecurangan', Bisa Picu Konflik?

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

17 Januari 2019 16:27 WIB
Elektoral | Rilis ID
Rilis ID

RILISID, Jakarta — Peneliti Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia (Formasi), Muhammad Taufik Rahman, menyayangkan isu yang dibangun oleh tim pemenangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno soal potensi kecurangan Pilpres 2019. 

Menurut Taufik, isu yang dibangun itu adalah bentuk propaganda yang berbahaya karena bisa memicu konflik yang besar bila ternyata nantinya pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin menang di Pilpres 2019. 

"Propaganda ini berbahaya karena berpotensi memicu konflik yang sangat besar. Jika tidak mampu direspons dengan cepat dan tepat oleh penyelenggara pemilu, perasaan saling curiga antarkelompok akan semakin tajam," katanya kepada rilis.id, Kamis (17/1/2019). 

Taufik mengatakan, kubu Prabowo-Sandi diduga sedang berupaya untuk mendelegitimasi pemerintah, penyelenggara pemilu dan lembaga hukum dengan terus-menerus melemparkan isu potensi kecurangan pemilu. 

Tujuan utamanya, ujar dia, adalah membangun konstruksi pikiran para pemilih bahwa hasil pemilu yang dimenangkan Jokowi-Ma'ruf pasti berasal dari kecurangan. 

"Tetapi yang lebih berbahaya adalah, apapun hasil pemilu yang tidak sesuai dengan harapan lawan-lawan politik Jokowi, tidak akan berakhir di Mahkamah Konstitusi, tetapi di jalanan," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, cara-cara mendelegitimasi pemerintah melalui isu kecurangan pemilu itu bukan lah hal baru dalam dunia politik. Pasalnya, hal itu sudah diterapkan oleh banyak negara lain di dunia. 

"Contoh teraktual bisa dilihat pada penyelenggaraan pilpres di Amerika Serikat. Desas-desus kecurangan pemilu disebarkan secara masif hingga menimbulkan korban dari kubu Demokrat yang berstatus sebagai petahana," paparnya. 

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Sukma Alam
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya