Konflik Hanura, Pengamat: Peluang Kekuasaan Disikapi Uang
Taufiq Saifuddin
RILISID, — RILIS.ID, Jakarta— Pengamat Politik Adhie Massardi mengungkapkan, konflik yang mendera Partai Hanura tak hanya diakibatkan mahar politik. Lebih dari itu, peluang kekuasaan yang dimiliki partai memberikan ruang bagi permainan uang sebagai pemicu konflik.
"Intinya bukan hanya soal mahar politik. Ketika peluang kekuasaan berdampak uang itu terbuka lebar, ini pasti menimbulkan konflik," ujar Adhie saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Sabtu (20/1/2018).
Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini menyontohkan, peluang terbukanya permainan uang seringkali terjadi di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Dalam hal ini, figur yang berhak masuk ke ranah itu adalah mereka yang memiliki uang.
Namun, yang menjadi persoalan sebenarnya adalah kekuasaan yang ditawarkan dan ditimbulkan partai, pada prinsipnya melahirkan uang. "Jadi kekuasaan dan uang menjadi penyakit, setiap ada peluang pasti menimbulkan masalah, seperti di Hanura ini," terangnya.
Di samping itu, terang Adhie, Hanura sejak masa Wiranto sudah rawan dengan konflik. Pasalnya, tidak ada mekanisme yang jelas bagaimana menyelesaikan konflik di internal partai itu.
"Berbeda dengan partai yang diorganisir dengan baik. Misalnya, Partai Komunis Cina, di sana mekanismenya lancar tuh dalam persoalan ini," ujar Adhie.
Ia juga mengkritik mekanisme kaderisasi yang dianut Partai Politik (Parpol) Tanah Air, karena selama ini Parpol tidak memiliki standar dalam memilih pemimpinnya.
"Kalau di kita kan orang dari antah-berantah bisa jadi pemimpin partai. Mekanisme kaderisasi ini tidak jalan, itu sebabnya jelang Pilkada atau Pemilu pasti ribut," kritiknya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
