Kisruh E-KTP hingga Regulasi Kampanye Bikin Masyarakat Jenuh

Default Avatar

Anonymous

Bandarlampung

8 Juli 2018 19:10 WIB
Elektoral | Rilis ID
Tenaga pengajar Fisip Unila Dedi Hermawan. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Sulis Wanto
Rilis ID
Tenaga pengajar Fisip Unila Dedi Hermawan. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Sulis Wanto

RILISID, Bandarlampung — Akademisi Universitas Lampung (Unila) Dedi Hermawan mengatakan kisruh e-KTP hingga semrawutnya pendataan pemilih membuat partisipasi pemilih di Pilgub Lampung turun.

Dedi mencontohkan masalah e-KTP yang diperbolehkan sebagai dasar untuk mencoblos di tempat pemungutan suara (TPS). Namun, ternyata para pemilih tidak bisa mencoblos dengan menunjukkan e-KTP.  (Baca juga: Partisipasi Pemilih di Pilgub Lampung 2018 Turun)

“Karena banyak juga masyarakat yang tidak mendapat formulir C6 (surat undangan). Sementara ada yang mengatakan bisa pakai e-KTP, tapi ternyata tidak bisa,” kata ketika dikonfirmasi rilislampung.id, Minggu (8/7/2018).

“(Mencoblos dengan e-KTP) Jadi informasi ini tidak stabil hingga pada saat pencoblosan, informasi itu simpang siur enggak permanen, sehingga membuat masyarakat pemilih jenuh dengan informasi semacam itu,” lanjut tenaga pengajar Fisip Unila ini.

Dedi juga menilai atmosfer Pilgub Lampung sepi alias tidak semeriah pada kontestasi pemilihan sebelumnya. Sejumlah masyarakat di wilayah perdesaan justru belum mengetahui adanya Pilgub.

“Makanya banyak di beberapa tempat yang menilai, hampir kebanyakan bertanya ini ada Pilgub apa enggak, jadi makna pestanya itu tereduksi, dengam regulasi yang ada dengan pembatasan kampanye. Regulasi manajemen kampanye oleh KPU tampak kaku sehingga animo atau gairah pemilih berkurang," jelasnya.

Kejenuhan ini, masih menurut Dedi, bisa juga disebabkan kualitas demokrasi. Karena semua tahapan saat ini lebih pragmatis. Hal itu dimulai dari penetapan pasangan, seleksi calon di partai politik, dan visi-misi calon sangat kering dari substansi terkait kemajuan daerah.

“Jadi animo kelompok kelas menengah jadi tidak menarik. Ini juga salah satu penyebab, di mana masyarakat mulai bosan sehingga keluar pandangan dari Pilgub ke Pilgub tidak ada ambilan. Situasi daerah tetap saja, kalaupun memilih, ya tidak ada yang signifikan. Sehingga pemikiran-pemikiran seperti itu mengendap di pemilih, " bebernya.

Tidak hanya itu, Pilgub Lampung tahun ini lebih tampak pragmatis karena calon memiliki pemodal besar. Seperti mengundang artis ibu kota.

“Jadi banyak variabelnya. Kalau dilihat secara umum aspek itu yang menyebabkan penurunan partisipasi pemilih,” ujarnya. (*)

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Segan Simanjuntak
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya