Kenaikan Luar Biasa di Pilkada Jabar dan Jateng, Ini Penjelasan LSI Denny JA 

Default Avatar

Anonymous

Jakarta

1 Juli 2018 13:35 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILISID, Jakarta — Lingkaran Survei Indonesia Denny JA mengungkapkan sebuah pertanggungjawaban akademik atas wilayah-wilayah yang menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di seluruh Indonesia, namun tetap dengan aroma Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Menurutnya, kondisi seperti ini mirip saat Pemilu Presiden Tahun 2016, di Amerika Serikat. 

Koran paling besar, berpengaruh dan kredibel, The New York Times, menampilkan berita prediksi hasil pemili yang mencolok mata. Tulis koran ini bahkan dalam grafis: Kemungkinan Hillary terpilih menjadi presiden hari ini 85 persen. Sementara kemungkinan Trump yang menjadi presiden hanya 15 persen.

Namun di hari itu juga, malam harinya, publik Amerika tercengang. Yang terpilih sebagai presiden ternyata Trump. 

Apa yang terjadi dengan prediksi survei? Tak hanya New York Times, tapi mayoritas lembaga survei paling kredibel yang punya jejak panjang dalam sejarah Pemilu Amerika juga memprediksi Hillary Clinton yang menang.

"Tapi penting pula untuk kita letakkan kasus ini dalam konteks makro. Apakah kekeliruan prediksi survei pemilu presiden itu selalu terjadi, atau hanya kasus khusus. Ini penting agar kita pun mengembangkan penilaian yang proporsional," jelas Denny JA.

Sejak beroperasinya lembaga survei modern di Amerika Serikat, Gallup Poll, tahun 1936, sudah terjadi dua puluh kali pemilihan pemilu presiden. 

Kesalahan prediksi mayoritas lembaga survei yang kredibel hanya terjadi sekali itu, hanya 5 hingga 10 persen kasus saja mungkin terjadi prediksi hasil survei yang salah.

Sebelumnya memang pernah pula terjadi kesalahan prediksi pemilu presiden Amerika Serikat yang dilakukan oleh Literary Digest Poll di tahun 1936. 
Namun, itu kesalahan metodelogis sebelum ditemukan prinsip survei modern.
 
Walau hanya 5 hingga 10 persen kasus, tetap saja harus ada otopsi untuk menjelaskan anomali itu. Justru penjelasan yang detail dan ilmiah dapat memperkaya ilmu pengetahuan.

Kasus kenaikan dukungan melonjak tak terduga di Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Barat harus pula ada pertanggung jawaban akademik. 

Menampilkan halaman 1 dari 5
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya