Kata Pengamat Usai Debat Prabowo Tuai Simpati Publik, Ini Sebabnya...

Zulhamdi Yahmin

Zulhamdi Yahmin

Jakarta

21 Februari 2019 12:53 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
Rilis ID
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILISID, Jakarta — Debat kedua Pilpres 2019 pada Minggu (17/2/2019) yang lalu terus menjadi perbincangan publik, terutama di media sosial. Menurut peneliti Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia (Formasi), Muhammad Taufik Rahman, Prabowo justru mendapatkan banyak simpati dari publik usai debat tersebut.

Taufik menjelaskan, ada tiga faktor kenapa Prabowo mendapatkan simpati publik. Di antaranya, kata dia, serangan dari capres nomor urut 01 Joko Widodo kepada Prabowo terkait penguasaan lahan di Kalimantan Timur dan Aceh Tengah justru blunder.

"Maksudnya mungkin ingin membangun  frame bahwa Prabowo merupakan orang yang menguasai lahan negara dengan cara yang tidak fair, tapi ternyata faktanya tidak," kata Taufik kepada rilis.id, Kamis (21/2/2019). 

Menurut Taufik, penjelasan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang mengatakan kepemilikan lahan Prabowo karena alasan nasionalisme dan tidak melanggar undang-undang, justru membuka pintu serangan balik pada Jokowi.

"Kalau kita perhatikan, isu yang dilemparkan Jokowi itu sekarang sudah berbalik pada Jokowi sendiri. Pengusaha-pengusaha yang memiliki HGU lebih besar dibandingkan Prabowo dan kebetulan sekarang menjadi pendukung Jokowi, juga mulai disorot," ujarnya.

Taufik melanjutkan, faktor kedua yang menyebabkan Prabowo mendapatkan simpati publik adalah karena kesigapan tim pemenangannya yang melakukan counter framing secara masif di media sosial. Hal itu, menurutnya, membuat masyarakat menyimpulkan bahwa hal itu bukan persoalan hukum, tetapi politik.

"Setelah mereka tahu bahwa tidak ada persoalan hukum di balik serangan Jokowi itu, mereka justru berpandangan bahwa posisi Prabowo adalah korban," lanjut dia.

Adapun faktor ketiga, ungkap Taufik, adalah soal kognisi sosial. Menurut dia, kemahiran dalam berdebat dan penguasaan forum yang agresif memang memuaskan sekelompok kecil kalangan menengah intelektual, namun hal itu berbeda bagi kelompok masyakat lainnya yang lebih karena faktor perasaan.

"Kita bisa lihat pengalaman pada 2014, posisi Jokowi dalam debat capres sangat inferior. Tapi tingkat simpati yang didapat justru lebih tinggi dibandingkan Prabowo. Begitu juga dengan perdebatan antara Donald Trump dan Hillary di Pilpres Amerika, posisi Trump justru didikte oleh Hillary. Inilah sebenarnya esensi debat yang dilupakan Jokowi. Debat bukan ajang adu pintar, tapi cara meraih simpati sebanyak-banyaknya," paparnya. 

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Elvi R
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya