Mahasiswa Unila asal Palestina Magang di Perusahaan Sevima Surabaya
Dwi Des Saputra
Bandarlampung
Jika masih mengalami kesulitan dalam belajar, ataupun terbayang-bayang dengan perang yang terus terjadi di kampung halamannya, ia selalu ingat dengan pesan orang tuanya. Bahwa Mohammed diberi tugas untuk mengubah nasib keluarganya dengan menjadi seorang sarjana dan berkarier di tempat yang lebih baik.
“Katakanlah algoritma, matematika, dalam bahasa manapun termasuk Inggris juga disebut demikian. Sifatnya universal. Jadi saya mulai belajar bahasa Indonesia, hingga akhirnya saya tidak mengalami kendala sama sekali dalam komunikasi dan pelajaran. Alhamdulillah untuk pelajaran eksakta, nilai saya hampir seluruhnya A (sempurna),” ungkap Mohammed yang kini meraih IPK 3,8.
Sejalan dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Mohammad yang kini duduk di semester enam, magang Perusahaan Education Technology Sevima.
Program magang ini akan dinilai setara 20 SKS dan menantang Mohammad untuk mengerjakan proyek berbasis digital secara langsung.
Salah satu proyek yang sedang dikerjakan Mohammed saat ini adalah menyediakan fitur tanda tangan elektronik di sistem akademik berbasis awan (Siakadcloud).
Proyek ini didasari atas pengalamannya yang kesulitan saat memperoleh izin dari dosen, baik untuk penelitian maupun melakukan aktivitas lainnya.
Alasannya seringkali beragam, entah karena dosen tersebut sedang berada di luar negeri ataupun justru harus di rumah saja karena kondisi pandemi Covid-19.
“Dengan fitur yang saya buat selama magang ini nantinya mahasiswa tidak perlu sulit-sulit lagi cari dosen untuk izin. Dosen juga tidak perlu kesulitan menemui mahasiswa hanya untuk tanda tangan surat. Semua bisa dilakukan secara elektronik dan digital,” ucap Mohammed.
Mohammed berharap, kemampuan membuat teknologi digital tersebut akan ia manfaatkan untuk meningkatkan kariernya. Selain itu, ia ingin berkontribusi bagi kemajuan pendidikan di Palestina serta Indonesia. Karena sejalan dengan pesan orang tuanya, Mohammed yakin pendidikan adalah cara terbaik bagi seseorang untuk mengubah nasib.
"Walaupun Palestina sedang dilanda peperangan, saya adalah orang yang percaya bahwa kita tidak selayaknya tangan di bawah. Kita tidak selayaknya bergantung pada bantuan orang lain. Nasib kita hanya bisa diubah oleh kita sendiri, dan salah satu caranya adalah menguasai ilmu pengetahuan,” pungkasnya. (*)
Mohammed Al Shurafa
Foto: Istimewa
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
