Cuaca Ekstrem, Nelayan di Pesibar Takut Melaut
Riki Saputra
Pesisir Barat
RILISID, Pesisir Barat — Akibat ombak besar disertai angin kencang, sejumlah nelayan di Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar) terpaksa menyandarkan perahu. Mereka memilih untuk tidak melaut demi keselamatan jiwanya.
Giras (42) nelayan setempat mengaku, sejak dua bulan terakhir cuaca ekstrim jadi penyebab aktivitas nelayan mencari ikan menjadi terganggu. Sehingga pendapatan nelayan menurun drastis, bahkan saat nelayan nekat melaut mereka hanya mendapatkan hasil tangkapan yang tidak seberapa.
"Gelombang tinggi mencapai dua hingga empat meter. Jika tetap nekat mencari ikan akan berisiko tinggi," ujar Giras, Rabu (4/1/2024).
Giras mengaku, setiap kali melaut bisa mendapatkan ikan 60 kilogram lebih saat cuaca bagus. Sekarang paling banyak 20 kilogram.
"Itu juga kalau angin dan ombak sedang agak bagus bisa dapat 20 kilogram," imbuhnya.
Hal serupa dirasakan Saihul (55) nelayan lainnya. Selama cuaca buruk, hanya dapat melaut satu kali dalam seminggu. Itupun dilakukan saat kondisi laut sedang bersahabat dan jika cuaca buruk melanda tidak bisa melaut di setiap pekannya.
"Saat ini cuaca sulit untuk diprediksi. Kondisi cuaca bisa saja berubah setiap saat," kata Saihul.
Sementara itu, akibat cuaca buruk harga ikan di Pasar Tradisional Kelurahan Pasar Kota, Pesisir Tengah, Pesibar naik mencapai 10-30 persen dari harga biasanya.
Salah satu pedagang ikan Mulyadi (38) mengakui, kenaikan harga ikan akibat sulitnya mendapat pasokan saat cuaca buruk.
Seperti ikan Tuhuk (Blue Marlin) harga normal berkisar Rp50 ribu/kilogram. Semenjak dua bulan terakhir, harganya melambung menjadi Rp75 ribu/kilogram.
Cuaca Buruk
Gelombang Tinggi dan Angin Kencang
Nelayan dapat melaut
Harga Ikan Melambung
Pesisir Barat
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
