WTP Sebelas Kali Jadi Bukti Konsistensi dan Keteladanan Pemprov Lampung
Rimadani Eka Mareta
Bandarlampung
Saring juga menekankan pentingnya tindak lanjut atas temuan auditor.
"Di balik angka sebelas itu, ada upaya berkelanjutan untuk menyempurnakan pengendalian intern dan membangun budaya kerja yang adaptif," jelasnya.
"Penilaian BPK tidak hanya soal format laporan, tapi juga soal perbaikan sistemis dari tahun ke tahun, sambungnya.
Ia mengakui bahwa WTP bukan jaminan bebas dari penyimpangan.
"Tapi WTP tetap indikator penting bahwa sistem keuangan sudah berada pada jalur yang benar," tegasnya. "Ketika diraih sebelas kali berturut-turut, itu menjadi simbol bahwa Pemprov Lampung telah membangun sistem yang bisa dipercaya dan diteladani."
Di akhir pernyataannya, Saring memberi catatan penting soal tantangan ke depan.
"WTP bukan tujuan akhir. Ini harus menjadi fondasi bagi transformasi pelayanan publik, terutama di sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur," ungkapnya.
Sebagai akademisi, Saring menilai capaian ini sebagai representasi dari kerja kolaboratif yang panjang.
"Kisah sebelas kali WTP ini pantas menjadi narasi inspiratif bahwa birokrasi bisa berubah, asal ada kemauan untuk belajar, konsistensi dalam pelaksanaan, dan keterbukaan terhadap evaluasi," tutupnya. (*)
Gubernur Lampung
Rahmat Mirzani Djausal
wtp
wajar tanpa pengecualian
wtp bpk
pengamat keuangan
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
