Putri Proklamator Ingatkan Bangsa Indonesia Tak Salah Pilih Pemimpin

Nailin In Saroh

Nailin In Saroh

Jakarta

17 Agustus 2018 14:00 WIB
Nasional | Rilis ID
Sukmawati Soekarno Putri. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma
Rilis ID
Sukmawati Soekarno Putri. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILISID, Jakarta — Putri Proklamator RI Rachmawati Soekarnoputri melaksanakan upacara bendera peringatan HUT RI ke-73 di Universitas Bung Karno (UBK). Dia menyatakan, peringatan HUT RI saat ini bertepatan dengan tahun politik, di mana akan dilaksanakan suksesi kepemimpinan nasional melalui pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden. 

"Untuk itu saya ingatkan, saya tegaskan kepada seluruh rakyat Indonesia jangan salah memilih pemimpin," tegas Rachmawati di UBK, Jakarta, Jumat (17/8/2018).

Menurutnya, tahun politik adalah tahun yang berbahaya. Karenanya, kata dia, masyarakat harus waspada menggunakan hak pilihnya dan  jangan sekali-kali salah memilih pemimpin yang menjadi antek kepentingan asing.

"Jangan memilih pemimpin yang berpaham neoliberalis yang hobinya menumpuk hutang,  yang senangnya menjual aset negara, yang membiarkan nilai rupiah terus terpuruk, yang tebang pilih dalam penegakan hukum, yang membiarkan masuknya tenaga kerja asing. jangan memilih pemimpin yang munafik, jika berkata harus sesuai dengan perbuatannya," cetusnya.

Dia pun mengelaborasi pemimpin yang berpaham neoliberalisme itu. Menurut dia, pemimpin itu gemar menumpuk hutang negara menjadi Rp8 ribu triliun. Terdiri dari hutang pemerintah dan hutang BUMN. 

Kedua, pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 5 persen. Rachmawati pun mengambil data juga dari paradoks Indonesia yang dibuat oleh Prabowo Subianto.

Kemudian nilai tukar rupiah terhadap US dollar yang merosot di kisaran 14.600 rupiah per dollar AS.

"Dan cenderung tidak terkendali bahkan seperti dibiarkan oleh pemerintah," katanya.

Selain itu, lanjut adik Presiden kelima Megawati ini, jumlah penduduk miskin dan pengangguran semakin bertambah. Banyak BUMN yang rugi dan menanggung beban hutang seperti BUMN di sektor perbankan karena dipaksa untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. 

Sementara, masuknya tenaga kerja asing terutama dari china juga makin massif padahal tenaga kerja dalam negeri banyak yang masih menganggur.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya