Pentas Drama di Panggung Politik Ratna Sarumpaet
Zulhamdi Yahmin
Jakarta
RILISID, Jakarta — RATNA Sarumpaet. Enggak ada habisnya ngomongin aktivis satu ini. Dengan berbagai ulah uniknya. Antara kritis, atau cari sensasi. Beda tipis.
Perempuan kelahiran Tapanuli Utara ini mengawali karirnya sebagai seniman. Dari sebuah pentas teater. Pada 1993, barulah ia mulai terjun ke politik.
Marsinah. Insipirasinya waktu itu. Seorang aktivis buruh yang terbunuh pada Mei di tahun tersebut. Ratna Sarumpaet jadi aktivis perempuan. Atas nama HAM.
Di era orde baru, ia memimpin protes ke pemerintah. Ia bersama 46 LSM, meminta Soeharto mundur pada 1997. Setahun setelahnya, Ratna mendekam di penjara.
Selama 70 hari ia menjadi tahanan. Ditangkap gara-gara tudingan menyebarkan kebencian. Padahal menyerukan perubahan. Soeharto lengser, ia dibebaskan.
Di era sekarang, Ratna tetaplah seorang aktivisi. Masih sama seperti dulu. Agak alergi dengan pemerintah. Sentilan-sentilan kecilnya tak lagi diragukan.
Ratna, yang akrab dipanggil Sarumpaet ini memang selalu berperan di panggung politik. Setiap momen bisa jadi tempat bagi dirinya melangsungkan pentas.
Mulai dari kritik-kritik kerasnya kepada pemerintahan Joko Widodo, adu mulut dengan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat pencarian KM Sinar Bangun di Danau Toba.
Terakhir, adalah kontroversi atas dugaan penganiayaan terhadap dirinya sendiri. Informasi ini mulai beredar pada Selasa, 2 September kemarin.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
