NU Sulteng: Jangan Cuma Soroti Radikalisme di Perguruan Tinggi
Anonymous
Palu
RILISID, Palu — Ketua Rois Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Tengah, Zainal Abidin, tak sepakat, radikalisme cuma ada di perguruan tinggi. Dia membandingkan dengan pelaku pemboman di Surabaya, beberapa waktu lalu.
"Pencegahannya harus dimulai dari sekolah tingkat dasar. Tidak hanya pada tingkatan perguruan tinggi," ujarnya di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (8/6/2018).
Baca: Gegara Terorisme, Risma Usul Sanksi Siswa Nilai PPKN Nol
Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu ini mengingatkan, radikalisme dan intoleransi merupakan gerakan terorganisir. Untuk itu, seluruh komponen masyarakat dan pemerintah harus bersinergi untuk melawan aksi radikalisme, intoleransi, dan teroris.
Upaya yang bisa dilakukan, seperti memantapkan penerapan pendidikan Pancasila, kebhinekaan, dan kerohanian di semua jenjang pendidikan. Lalu, pendidik memberikan pemahaman Pancasila, kerohanian, dan kebhinekaan kepada peserta didik.
"Radikalisme, terorisme, intoleransi, adalah musuh bersama. Tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum untuk membasmi gerakan tersebut," tegasnya.
Zainal pun mendorong Badan Nasional Penganggulangan Terorisme (BNPT) meningkatkan program deradikalisasi, sejak tingkat sekolah dasar (SD). "Jangan hanya sebatas merilis perguruan tinggi terpapar paham radikalisme," tukas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu ini.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
