Klaim Pertumbuhan Ekonomi Raih Capaian Tertinggi, Komisi X: Tapi Jauh dari Janji Kampanye
Anonymous
Jakarta
“Ekonomi nasional tidak dinikmati rakyat banyak. Bahkan, angka di kuartal II sebesar 5,27 persen itupun hanya bersifat sementara belum mampu merembes sampai kepada kelas masyarakat menengah ke bawah yang proporsinya sebesar 80 persen,” ujar Heri.
Kemudian, tertekannya daya beli itu lalu berimbas pada penurunan kinerja ekonomi secara keseluruhan musti menjadi ukuran utama.
Ini terungkap dalam Survei Nielsen yang mengungkap ada distorsi daya beli pada kelompok menengah ke bawah.
Mengingat dorongan terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) bukan berasal dari investasi, namun lebih banyak karena kucuran dana pemerintah.
Soal berikutnya adalah pemerintah terlalu ambisius membangun infrastruktur yang seringkali mengorbankan sektor riil.
Padahal, pembiayaannya berasal dari utang yang ujungnya berdampak pada defisit anggaran. Pemerintah harus sadar bahwa defisit cenderung meningkat.
Penyebabnya adalah realisasi belanja selama ini, rata-rata tumbuh di kisaran 5 persen, sementara realisasi pendapatan Negara hanya tumbuh di kisaran 3 persen.
“Paling menyedihkan lagi, itu semua dilakukan untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi target yang sudah mereka tentukan sendiri,” pungkas politisi Partai Gerindra itu.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
