Fahri Hamzah: Pemerintah Lakukan Kebohongan
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan, pemerintah diduga membohongi publik dengan menyebut angka kemiskinan turun dengan mengacu pada data-data statistik. Sementara kehidupan rakyat semakin susah.
Ia meminta agar masyarakat dan elite di negeri ini tidak mudah terhibur dengan data-data statistik tersebut.
“Apakah benar kemiskinan semakin menurun? Secara statistik ya. Tapi kita jangan juga mudah terhibur oleh statistik. Statistik itu ilmu yang kompleks, membacanya juga harus lebih jeli. Selain itu kembalilah ke realitas sekeliling kita dan bertanyalah, apakah benar orang miskin semakin berkurang?” kata Fahri di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (17/7/2018).
Hari-hari belakangan ini masyarakat menghadapi realitas kenaikan harga, itu tidak bisa dibantah. Kenaikan BBM dan listrik terutama pada masa pemerintahan Pak Jokowi membuat harga sembako terus naik, hari demi hari. Kelompok yang kaya mungkin tidak terasa, tetapi kelompok menengah ke bawah, dampaknya luar biasa.
“Tetapi kenapa statistik kemiskinan kita berbicara beda,” tanyanya.
Ia menjelaskan cara mengukur orang miskin di negeri kita. Orang dikatakan miskin jika pengeluaran (bukan pendapatan) ada dibawah garis kemiskinan (GK). GK terdiri dari GK makanan dan non-makanan tetapi GK makanan lebih mendominasi perhitungannya.
BPS mencatat GK per maret 2018 sebesar Rp 401.220 per bulan. Kalau dibagi 30 hari jadi sebesar Rp 13.777. Ini ada batas orang dikatakan miskin atau tidak miskin. Jadi kalau ada tetangga kita pengeluarannya dalam sehari per kepala Rp 14.000 saja. Itu tidak miskin. Tidak tertangkap oleh statistik sebagai orang miskin.
Padahal Rp 14.000 sehari di kehidupan nyata dapat makan apa? Berapa kali kita makan? Buat ongkos ke sekolah gimana? Bagi yang kerja buat ongkos transport berapa? Apa cukup? Oleh statistik yang diyakini pemerintah, tidak miskin. Tidak perlu bantuan. Tidak perlu kebijakan untuk anda. Bukankah ini tragis
“Itulah mengapa, kita jangan mudah terhibur dengan statistik! Jangan mudah tepuk tangan yang membuat kita lalai dan kehilangan kesadaran bahwa ekonomi kita sedang bermasalah kesejahteraan rakyat kita dipertaruhkan,” ujarnya.
"Kalau bicara kesejahteraan rakyat, masih banyak indikator kesejahteraan yang berbicara lain dan dalam kondisi memprihatikan,” ungkap politisi PKS itu, "tingkat upah riil buruh yang terus merosot, nilai tukar petani semakin menurun. Padahal mayoritas SDM kita ada di sektor pertanian dan buruh."
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
