Ekspor Jagung Jangan Cuma untuk Pencitraan
Anonymous
Jakarta
RILISID, Jakarta — KALAU bicara soal jagung. Pasti yang terbesit adalah kata "surplus". Ya, begitulan klaim pemerintah soal produksi jagung nasional. Benarkah? Sayangnya realita di lapangan tak selalu begitu.
Para peternak kini mengeluhkan tingginya harga jagung. Dari harga rata-rata sekitar Rp4.000an, kini meingkat jadi Rp5.200. Masalahnya di mana? Bisa jadi karena kurangnya pasokan jagung dalam negeri.
Pemerintah lewat Kementerian Pertanian selalu mengedepankan ekspor jagung atas klaim surplus tersebut. Hal inilah digaung-gaungkan sebagai kinerja positif yang signifikan.
"Ekspor jagung ini torehan sejarah baru Indonesia, kita dulu langganan impor, kini ekspor," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam siaran pers kepada rilis.id belum lama ini.
Sejak 2017, katanya sih sudah tidak ada impor jagung untuk pakan ternak. Padahal, selama puluhan tahun lamanya, Indonesia adalah net importir jagung. Sejarah berbalik kali ini.
Amran bilang, pada 2018 inilah bukti dari kerja keras tersebut. Bukan cuma swasembada. Tapi juga ekspor ke berbagai negara. Malaysia dan Filiphina lah yang kini butuh jagung dari Indonesia.
"Kebutuhan Filipina 1 juta ton dan Malaysia 3 juta ton, total nilainya sekitar Rp12 triliun, kita akan penuhi secara bertahap," sambung Amran waktu itu.
Hingga awal Mei 2018, paling tidak tercatat empat kali ekspor jagung Indonesia ke Filipina. Total volume ekspor hampir mencapai 136 ribu ton. Diambil dari Gorontalo, Sulsel dan NTB.
Bukan ujug-ujug tanpa perjuangan. Upaya ekspor, klaim Amran dilakukan dengan berbagai terobosan. Seperti peningkatan anggaran 380 persen, perluasan areal tiga juta hektare.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
