Suburkan Filantrofi di Masa Pandemi
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Apakah mereka orang-orang kaya? Tentu tidak, sebagian mereka orang-orang yang memiliki kepedulian yang tinggi.
Dalam keterbatasan yang melingkupi dirinya, tetap bisa bergerak menginisiasi dan menebar kebaikan pada sekitarnya. Dan hal ini perlu terus dilestarikan.
Karena kebaikan itu seperti bola salju yang akan semakin membesar dan pada akhirnya menjadi gerakan solidaritas yang masif.
Menjaga kontinuitas gerakan sosial, maka diperlukan strategi yang terstruktur. Seluruh komunitas perlu membangun kebersamaan dan bekerjasama yang apik, sehingga dapat menyentuh lebih luas masyarakat yang membutuhkan.
Kekhawatiran dari gerakan ’individual’ komunitas adalah kurang optimalnya penyaluran santunan. Karena sangat mungkin satu target sosial, disantuni oleh beberapa komunitas.
Padahal, pada sisi lainnya masih terdapat target sosial lain yang belum tersentuh. Oleh kaena itu, kerjasama dan sinergi komunitas perlu diinisiasi sehingga mampu menyatukan orang-orang baik, sehingga semakin memperluas kebaikan yang akan dilaksanakan.
Kemudian, yang tidak kalah penting dalam menjaga kontinuitas gerakan adalah transparansi keuangan.
Laporan penyaluran yang disertai transparansi pengelolaan keuangan, akan menjaga trust para dermawan untuk terus rutin menyalurkan donasinya.
Dan, teori word of mouth dari Kotler dan Keller akan berlaku. Para dermawan akan menjadi perantara orang ke orang baik secara lisan, tulisan, maupun lewat alat komunikasi elektronik, untuk menyampaikan peluang-peluang lebaikan yang dilakukan oleh komunitas.
Efeknya, semakin tersebar kegiatan filantrofi, akan semakin banyak pihak yang berdonasi, dan pada akhirnya akan semakin luas kontribusi komunitas pada duafa di saat pandemi ini.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
