Para Social Seller ”Kartini“ di Peradaban Informasi
lampung@rilis.id
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — RADEN Ajeng Kartini adalah salah seorang wanita yang dianugerahi gelar pahlawan nasional, karena semangat emansipasi wanita yang diperjuangkannya dan berhasil menginspirasi kaum wanita di Indonesia untuk berkarya dan berperan memajukan bangsa.
Hari kelahiran Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April, selalu diperingati di Indonesia, untuk mengenang beliau dan jasanya terhadap wanita Indonesia.
Kita pun kembali memperingati hari kelahiran Kartini di tahun 2022 ini. Ada banyak pendapat orang dalam memaknai sosok yang sesuai dengan Kartini, karena memang tidak ada definisi seragam untuk hal ini.
Setiap orang punya alasan masing-masing untuk memaknai sosok Kartini nya, namun yang pasti Kartini adalah seorang wanita yang memiliki semangat tinggi untuk maju dan membawa perubahan baik bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan bahkan bangsanya.
Dalam peradaban informasi saat ini, semangat emansipasi Kartini ini justru terfasilitasi dengan sangat baik. Hal ini terbukti dari banyaknya wanita yang sukses melakukan social selling di sosial media dan kabar gembiranya adalah sosial media ini membuka peluang yang besar bagi setiap orang, khususnya wanita.
Karena sosial media tidak mempersyaratkan usia, penampilan, pendidikan ataupun jenis kelamin dalam sosial media yang penting adalah orang memiliki sesuatu atau konten menarik untuk disajikan.
Social selling berbeda dengan sales menurut Prof. Rhenald Kasali, perbedaan keduanya terletak pada barang yang dijual, di mana di dalam sales kita hanya menjual benda mati, sepatu, baju, makanan, dan sebagainya.
Tanpa ada hubungannya dengan benda hidup, dan kita melakukan sales atau penjualan pada toko-toko offline ataupun marketplace, sedangkan social selling dilakukan di social media yaitu media yang kita gunakan untuk saling terhubung atau connect dengan orang lain.
Oleh karena itu sosial media menjadi sarana untuk menghidupkan produk yang kita jual melalui toko-toko online, pada sosial media ada orang yang memakai produk kita dan berkomunikasi dengan orang secara persuasive dengan ciri khas masing-masing memasarkan produknya dengan soft selling yang mendorong orang untuk memiliki minat beli.
Jadi social selling yang dilakukan di media sosial itu adalah soft selling bukan hard selling seperti pada penjualan di toko, pada sosial media adalah tempat kita membangun engagement atau ikatan yang kuat dengan konsumen.
Para Social Seller ”Kartini“ di Peradaban Informasi
Universitas Teknokrat Indonesia
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
