Pahit yang Dinikmati
lampung@rilis.id
Pramoedya Ananta Toer mengolah kegetiran yang dialami Nyai Ontosoroh dan Minke, dua tokoh utama dalam tetraloginya yang mengaduk-aduk rasa. Mengajak menyelami perihnya sayatan demi sayatan luka orang yang kalah. Saat yang sama, energi kata-katanya tidak sekadar ajakan menghayati rasa kalah semata, tapi utamanya tentang ”daya hidup”. Ya, melawan untuk tetap hidup.
Sebagaimana yang biasa dikutipnya dalam dialog Nyai Ontosoroh kepada Minke: ”Kita sudah melawan, Nak, Nyo...sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!”.
Di antara ribuan perspektif itu, tak sepertj Pram, Prie Ge ES mengajak menyelami parodi kegetiran secara jenaka. Pencapaian yang tak gampang. Menertawai liku kepiluan yang dialami, sungguh hanya sedikit orang yang bisa.
Dan kepahitan Sambiloto, Brotowali, Kayu Pucang dan Ceplikan pagi ini kusesapi sembari mengerjapkan mata. Kelak rupa-rupa kesusahan, kesedihan, bahkan trauma yang pernah dan akan kulewati, tak kan ku wartakan kecuali dalam kemasan yang manis. Sebagaimana pahitnya jamu pagi ini kutawarkan dengan seteguk gula.
Selanjutnya, sebagaimana Pram atau Mas Prie, kelak akupun ingin menyajikannya dalam refleksi yang berguna, syukur-syukur menyulapnya menjadi cerita jenaka.
Ciputat, 27 Desember 2020. (Wasril Purnawan)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
